Hati, Rumah, Tuan dan Tamu

Aku punya banyak tanya, tapi dayaku tak ada untuk bertanya. Pilihanku ada pada menerima, kekasih. Bukan menerima apa pun yang kamu lakukan padaku, melainkan menerima apa pun yang Tuhan tunjukkan untukku.

Mungkin ini terlihat menyedihkan, tapi lebih menyedihkan ketika aku keras kepala memintamu pada-Nya, sementara mungkin Dia akan memberiku seseorang untukku.

Setiap hati adalah rumah, dan kita adalah tuan rumahnya. Selayaknya tamu, cepat atau lambat, dia memang harus pergi, bukan?!

Di saat kau mengizinkanmu masuk. Tanpa kau ketahui, sudah ada dirimu di dalam sana. Lalu, siapa yang bisa menjaminmu betah berlama-lama di sana?! Aku?! Tidak.

Sebanyak apa pun suguhan yang aku hidangkan, setebal dan sehangat apa pun selimut yang aku berikan, jika kau ingin pergi, aku tidak punya kekuatan untuk menahan. Lakukan! Lalu akan kembali merapikan rumah yang pernah membuatmu nyaman.

Sesederhana itu?! Tentu tidak. Aroma tubuhmu tentu tak bisa begitu saja hilang dari tembok-tembok rumahku. Tenang saja, aku tak akan membuatnya segera hilang. Biar saja ia hilang pelan-pelan ditimpa peristiwa-peristiwa lain yang terjadi di rumahku; yang aku rasakan.

Kelak, jika kau lelah, rindu pada apa pun yang aku suguhkan, akan ku sediakan, kau bisa kembali datang. Tapi jika boleh ku meminta -dalam doa, kedatanganmu kali ini semoga disertai dengan niat menetap, tak lagi ingin pergi.