Simple Happiness

Hey dek, 
tawamu kencang sekali 
seperti tak ada dosa yang melekat pada tubuh mungilmu.
Tangismu amat menjengkelkan
 mirip celoteh jangrik yang bersembunyi di balik ilalang— bahkan jauh lebih kencang.

Hampir setiap sore —yang ku ingat— keringatmu selalu bercucuran 
padahal bedak sudah ditabur seluruh wajah dan lalu 
ibumu hanya marah, aku geli tertawa.

Dulu pernah bolaku kau hilangkan, pot di beranda kau tendang, macam setan tingkahmu kawan, 
tapi kadang tingkahmu bak malaikat tak bersayap, ingin kucubit pipi merona itu.

Sering kau teriakan namaku berkali-kali sampai bosan aku meresponnya, kadang ku tanya apa jawabnya apa. Kau ini amat lugu, berhitung pun belum mampu, bilang R saja ragu-ragu, ah, gemas aku.

Selalu kau tuntun kendaraanmu, padahal jelas kau bisa mengayuhnya, semoga alasanmu melakukan itu tak serumit konspirasi bumi itu bulat atau datar.

Tapi, sungguh, ku berterimakasih untuk sore tadi kala kau tersenyum dan menyerukan namaku saat aku merasa sedang kacau-kacaunya.

Tak tahu aku siapa yang mengutusmu tuk melakukan itu, tapi sungguh, itu membuatku sadar bahwa betapa sederhananya kebahagiaanku.

Senyum tanpa dosamu yang membuatku sadar tak perlu risau akan perihal yang tak bisaku ubah, barangkali memang sudah seharusnya seperti itu.

Aku lupa bagaimana berbahagia seperti kau yang melompat-lompat di atas genangan—padahal ibumu barusan memandikanmu.

Ku buat entah apa ini namanya hanya tuk berterimakasih, sebab telah terlahir di keluarga sebelah rumahku

~dari tetanggamu

“Kata”; Logika, Lalu Bersikap

Kata adalah asal mula. Semuanya berasal dari sebuah kata, bahkan penciptaan makhluk di alam raya ini berasal dari kata. Sekali lagi, semuanya berasal dari sebuah kata–termasuk hal baik dan hal buruk.

Kata adalah konsep dan konsep mendorong untuk terjadinya aksi. Seperti filsafat Hegel yang melakukan tinjauan kritis terhadap eksistensi suatu hal; ide atau matter yang dahulu? Konsep atau aksi dahulu? Kata atau penilaian dahulu?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya ditinjau dari metode berpikirnya; apakah positivisme yang membuktikan sesuatu hal secara dan sehingga mengakui eksistensi ‘materi’nya atau sekadar menerima referensi yang sangat kuat (sudah teruji) seperti post-positivisme. Sebagai contoh, para post-positivis tidak lagi membuktikan kecepatan cahaya itu berapa, 1kg sama dengan berapa gram, cara penyelamatan dari tim SAR dll.

Para post-positivis tidak lagi membuktikan hal itu benar atau tidak. Singkatnya, para post-positivis mengadopsi statement / spekulasi / saran menjadi suatu hal yang dapat diakui kebenarannya atau mempercayainya. Kedua metode berpikir tersebut sama-sama benar dan sama-sama rapuh.

Positivisme bergerak begitu kaku sehingga apa pun harus dibuktikannya dan post-positivisme memiliki sisi rapuh, yakni mengadopsi hal-hal yang mereka anggap postulat (kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi).

Permasalahan terhadap berfikir dan cara menilai yang berasal dari sebuah kata dan kata itu beranak pinak membentuk suatu diorama yang kemudian membentuk suatu nilai. Nilai tersebut tidak bisa salah bagi si penerima, sebab berasal dari sumber yang menurut penerima dapat dipercayai.

Seperti kebanyakan manusia sekarang yang tidak perlu membuktikan orangtua mereka dengan tes DNA. Nilai yang berasal dari Kata tersebut memiliki otoritas kebenaran bagi si penerima yang kemudian diakui sebagai sebuah postulat.

Misalnya, pada pasca Perang Dingin, Barat sangat percaya bahwa peradaban yang terakhir adalah peradaban Barat dengan liberalisme-nya (Francis Fukuyama. The End of History). Di luar dari benar atau tidaknya hal tersebut tidak dapat dipastikan pada penalaran individu apatah lagi yang mengaminkan pernyataan tersebut sebagai sebuah postulat.

Akan tetapi, pernyataan dari ilmuwan Hubungan Internasional asal Amerika keturunan Jepang tersebut, terkesan euphoria belaka. Logika Fukuyama dan pengikutnya sama, sama-sama percaya bahwa peradaban terkahir adalah liberalisme Barat.

Logika boleh mengatakan demikian, akan tetapi apakah fakta berubah? Tentu saja tidak. Logika dan fakta adalah dua variabel (entitas) yang tidak dapat dipisahkan. Seperti ada gula, ada semut. Ada kamu, ada aku (walaupun itu dulu). Fakta terletak pada ranah eksklusif dari pemikiran, fakta adalah hakim bagi logika.

Tidak begitu lama setelah pernyataan Fukuyama tersebut, justru banyak peradaban-peradaban lain selain Barat yang semakin menunjukkan eksistensinya. Konfusius dan Islam, misalnya–yang kemudian menjadi inspirasi bagi essai Samuel P. Huntington tentang gesekan peradaban (di luar dari relasinya dengan Bernard Lewis). Maka, logika Fukuyama sudah terbantahkan. Lagi, dari kaumnya sendiri.

Kemudian thesis Clash of Civilization dari Huntington tersebut yang menyalahkan peradaban lain selain Barat yang menjadi beban dunia sebenarnya juga sudah terbantahkan. Di saat bersamaan, Huntington mempromosikan nilai-nilai demokrasi Barat yang sekuler-liberal dan hal-hal profan yang ingin di-Barat-kan (to be westernized).

Apakah fakta berubah dengan logikanya Huntington? Tidak sama sekali. Justru nilai-nilai peradaban Barat begitu destruktif bagi makhluk hidup di dunia ini.

Positivis dan post-positivis boleh saja berspekulasi dan lebih-lebih menganalisa. Akan tetapi, apakah sumber, cara menentukan, dan penetapan kebenaran itu sudah benar atau sekadar dorongan emosional saja? Huntington, Fukuyama, Hegel, pembenci suatu kaum atau individu dan lainnya boleh saja menitipkan kata, menitipkan konsep, namun semua itu tidak terlepas dari fakta sebagai hakim yang menyaring kecacat-pikir-an penerima.

Begitulah kata, meski hanya kata namun dapat menggoyahkan hati, pikiran, dan dunia. Manusia boleh saja menitipkan kata (red: gossip) dan menitipkan konsep atau mengambil kata atau mengambil konsep, namun belum tentu itu sebuah atau seribu-buah kebenaran.

Apa lagi berasal dari kata yang sangat subyektif, apakah postulat itu sebenarnya postulat? Apa lagi hukum dari sebuah “kata” menunjukkan kerapuhannya sebagai motor penggerak suatu permulaan; Kata, jika dititipkan akan kelebihan. Kata, jika kelebihan akan sulit di semua hal.

Kata, memang suatu hal yang sepele. Namun, siapa sangka karena “Kata” bisa berseteru? Di luar dari “kata” tersebut muslihat atau sebaliknya.