Suatu hari, aku berharap dapat menangkupmu dalam tulisanku, dalam kalimat-kalimat yang kutuangkan pada prosa.

Malam ini aku terduduk di tepi bingkai jendela, dalam sudut kesendirian yang kuhabiskan berjam-jam di kamar. Aku lihat warna langitnya berganti. 

Mulai dari biru pudar dengan gerumbul gemawan putih mengambang, selang kemudian angin bertiup berganti arah, mendatangkan awan yang berarak dari selatan, tebal bergulung-gulung kelabu, siap menjatuhi bumi dengan rintikan hujan -dalam imajiku-.

Kau ingat, sunyi, aku begitu menyayangimu. Sekarangpun masih tak ada beda. 

Hanya saja kau sudah tiada sama seperti dulu. Aku tertawa, pada rintikan hujan yang berderai di teritis depan kamar. Airnya terpercik kemana-mana.

Hidupku demikian jenaka, sampai aku bahkan tak tahan untuk tidak menertawai plot ceritanya.

Eh, Sunyi, ini sudah terasa lama. Kau masih saja menunggui di lamunanku, berdiam dalam kenangan yang akan menenggelamkanku jika ku tuang kelewat banyak dalam kontemplasi saban hari.

Belum lagi kalau kau berkunjung dalam mimpi-mimpi sepanjang malam, memelukku erat. Ingat tidak, aku sering mengigau dan terbangun dengan air mata berlinangan, dengan dada sesak dan nafas tersengal.

Kenapa demikian?

Apa karena kau juga paham bahwa waktuku tak banyak?

Ah Sunyi, kau harus tahu, aku tak hanya sekedar menghabiskan hari menunggu mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *