Hey dek, 
tawamu kencang sekali 
seperti tak ada dosa yang melekat pada tubuh mungilmu.
Tangismu amat menjengkelkan
 mirip celoteh jangrik yang bersembunyi di balik ilalang— bahkan jauh lebih kencang.

Hampir setiap sore —yang ku ingat— keringatmu selalu bercucuran 
padahal bedak sudah ditabur seluruh wajah dan lalu 
ibumu hanya marah, aku geli tertawa.

Dulu pernah bolaku kau hilangkan, pot di beranda kau tendang, macam setan tingkahmu kawan, 
tapi kadang tingkahmu bak malaikat tak bersayap, ingin kucubit pipi merona itu.

Sering kau teriakan namaku berkali-kali sampai bosan aku meresponnya, kadang ku tanya apa jawabnya apa. Kau ini amat lugu, berhitung pun belum mampu, bilang R saja ragu-ragu, ah, gemas aku.

Selalu kau tuntun kendaraanmu, padahal jelas kau bisa mengayuhnya, semoga alasanmu melakukan itu tak serumit konspirasi bumi itu bulat atau datar.

Tapi, sungguh, ku berterimakasih untuk sore tadi kala kau tersenyum dan menyerukan namaku saat aku merasa sedang kacau-kacaunya.

Tak tahu aku siapa yang mengutusmu tuk melakukan itu, tapi sungguh, itu membuatku sadar bahwa betapa sederhananya kebahagiaanku.

Senyum tanpa dosamu yang membuatku sadar tak perlu risau akan perihal yang tak bisaku ubah, barangkali memang sudah seharusnya seperti itu.

Aku lupa bagaimana berbahagia seperti kau yang melompat-lompat di atas genangan—padahal ibumu barusan memandikanmu.

Ku buat entah apa ini namanya hanya tuk berterimakasih, sebab telah terlahir di keluarga sebelah rumahku

~dari tetanggamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *