“Tuhan tidak tidur. Tuhan menciptakan tidur.” Kata Joko Pinurbo di dalam sebuah sajaknya yang berlanjut pada pemahaman afeksi tentang bagaimana seseorang memahami tubuhnya—yang perlu merayakan kelahiran pagi dan ketika embun lahir dari rahim bumi.

Agaknya Jokpin menulis sajak ini berawal dari penafsirannya terhadap Al-kitab (Perjanjian Lama; Kejadian pasal 2 ayat 3) Di sana tertera jelas, Allah hanya berhenti bekerja bukan beristirahat.

Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh—yang sebenarnya tidak sinkron dengan penerjemahannya pada kata Sabat– sebab tujuh dalam Ibrani diartikan sheva–mungkin merujuk hanya pada kemiripan pengucapannya. Berhenti setelah enam hari menciptakan bumi dan segala makhluk di dalamnya (diterangkan pada Kejadian pasal 1).

Kontradiksi akhirnya lahir dari kedua sisi peradaban samawi pada saat itu—bahkan hingga sekarang (Yahudi dan Nasrani).
Yahudi, sabat diikrarkan sebagai hari istirahatnya Tuhan.

Sabat dalam linguistik global lebih merujuk pada hari istirahat. Atau dalam bahasa kita Indonesia adalah sabtu.

Di sinilah peran bahasa teramat sangat penting. Yang berujung pada pengaruh terhadap keeksistensian Tuhan itu sendiri. Sebab, dalam wejangan Syeh Siti Jenar, eksistensi Tuhan tak patut dipertanyakan, hanya dirasakan. Fana ilal Baqa’ (kembali ke ketiadaan). Juga yang sering diucapkan budayawan Sujiwo Tejo tentang pembathinan “ada yang tiada”.

Yahudi merayakan sabat (sabtu) setelah melakukan kebaktian di Sinagog pada Jum’at malam. Yahudi memeringati ini sebagai hari beristirahatnya Tuhan. Pada hari ini Yahudi juga menanti seorang mesias—yang dipercaya akan datang jika tekun mengkuduskan sabat itu sendiri.

“Apa agamamu?”
“Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu” Jokpin mengemukakan plural, kembali pada sajak yang sama. Agaknya penulis kita ini berusaha meredam konflik ragam kepercayaan pada penggalan sajak sebelumnya.

Apapun itu, seorang Muslim, Nasrani, Yahudi haruslah sepemahaman dalam hukum Taurat. Entah itu pada akhirnya sering lahir perbedaan pemahaman, sampai hari ini kita hanya bisa berdiskusi.

Sunnatullah (Hukum Alam) mencakup juga “perbedaan” di dalamnya. Bagian yang terpenting adalah (menurut saya) tetap tidak mempertanyakan keeksistensian Tuhan. Sebab, kita pun lahir dari bagian ruh-Nya (QS Al-Hijr 29-32).

Maka, yang paling mempunyai hak untuk beristirahat pada hari sabtu hanyalah Jomblo. Sebab, pada hari-hari lainnya—gerombolan manusia ini (jomblo) melintasi batas semesta semaunya di tengah mereka yang sedang bekerja untuk mencukupi kebutuhan akhir pekan demi membahagiakan kekasihnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *