Tercipta dari getir, ia merangkai perih yang ia punguti dari sisa-sisa tragedi.

Matanya yang sembab, berhalusinasi tentang janji yang ia cungkil sendiri dari hati yang terlanjur mempercayai.

Bergetar tangannya, menodai kertas yang meregang nyawa. 

Tersusun kata yang menangisi elegi tentang masa yang pernah dilewati.
Ia sendiri. 

Ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. 

Pintalan akar yang mengikat nadi telah menjadi saksi, bahwa puisi adalah pembunuh paling sadis untuk dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *