Sosok Wanita Disebut Ibu

Ada cerita yang ku gantung di pelupuk sukma. Ini tentang kasih seorang ibu yang besarnya tiada hingga
. Tentang ia yang habiskan sisa hidupnya untuk tertawa; entah dusta atau nyata.

Demi aku, seorang insan yang terkadang lupa cara berterimakasih padanya. Ada ucap yang kusesal tiap detakan masa
. Acap kali ku berkata cela, hanya kerut di ujung bibirnya yang berkata: ia tetap percaya pada tiap kata yang kuutara
.

Ini tak pelak membuatku geram
, sepantas apa aku menerima tiap senandung sayapnya?

Getir; aku hanya bocah berbalut dosa
, namun aku ingin bunda berlama-lama mendampingiku
. Sebab, masih ada begitu banyak perkataan yang tak bisa ku ucap
. Sebab, masih ada sedikit sekali tingkahku yang bisa membanggakan.

Bunda, tak perlu khawatir pada senja yang acap kali tiba. 
Karena aku akan ada, di balik tingkah tengilku; mengenggam tanganmu.

Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang terbakar kemerahan; tapi aku tahu cara menghargaimu kini
. Bersamamu, hidup adalah panggung lakon teristimewa.

Simple Happiness

Hey dek, 
tawamu kencang sekali 
seperti tak ada dosa yang melekat pada tubuh mungilmu.
Tangismu amat menjengkelkan
 mirip celoteh jangrik yang bersembunyi di balik ilalang— bahkan jauh lebih kencang.

Hampir setiap sore —yang ku ingat— keringatmu selalu bercucuran 
padahal bedak sudah ditabur seluruh wajah dan lalu 
ibumu hanya marah, aku geli tertawa.

Dulu pernah bolaku kau hilangkan, pot di beranda kau tendang, macam setan tingkahmu kawan, 
tapi kadang tingkahmu bak malaikat tak bersayap, ingin kucubit pipi merona itu.

Sering kau teriakan namaku berkali-kali sampai bosan aku meresponnya, kadang ku tanya apa jawabnya apa. Kau ini amat lugu, berhitung pun belum mampu, bilang R saja ragu-ragu, ah, gemas aku.

Selalu kau tuntun kendaraanmu, padahal jelas kau bisa mengayuhnya, semoga alasanmu melakukan itu tak serumit konspirasi bumi itu bulat atau datar.

Tapi, sungguh, ku berterimakasih untuk sore tadi kala kau tersenyum dan menyerukan namaku saat aku merasa sedang kacau-kacaunya.

Tak tahu aku siapa yang mengutusmu tuk melakukan itu, tapi sungguh, itu membuatku sadar bahwa betapa sederhananya kebahagiaanku.

Senyum tanpa dosamu yang membuatku sadar tak perlu risau akan perihal yang tak bisaku ubah, barangkali memang sudah seharusnya seperti itu.

Aku lupa bagaimana berbahagia seperti kau yang melompat-lompat di atas genangan—padahal ibumu barusan memandikanmu.

Ku buat entah apa ini namanya hanya tuk berterimakasih, sebab telah terlahir di keluarga sebelah rumahku

~dari tetanggamu

Anomali Anonimous

Dalam pikirmu, aku adalah bayang masa lalu.

Terlipat rapi di sudut hati dan kepala yang tak lagi kau jamah
.

Dalam matamu, aku adalah refleksi kenaifan diri.

Peringatan untuk tidak mengulang kebodohan yang sama.

Bagimu, aku adalah kesalahan terbesar dalam hidup.

Bagiku, kau adalah anomali dari semua yang kau pikir tentangku.

Sabath

“Tuhan tidak tidur. Tuhan menciptakan tidur.” Kata Joko Pinurbo di dalam sebuah sajaknya yang berlanjut pada pemahaman afeksi tentang bagaimana seseorang memahami tubuhnya—yang perlu merayakan kelahiran pagi dan ketika embun lahir dari rahim bumi.

Agaknya Jokpin menulis sajak ini berawal dari penafsirannya terhadap Al-kitab (Perjanjian Lama; Kejadian pasal 2 ayat 3) Di sana tertera jelas, Allah hanya berhenti bekerja bukan beristirahat.

Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh—yang sebenarnya tidak sinkron dengan penerjemahannya pada kata Sabat– sebab tujuh dalam Ibrani diartikan sheva–mungkin merujuk hanya pada kemiripan pengucapannya. Berhenti setelah enam hari menciptakan bumi dan segala makhluk di dalamnya (diterangkan pada Kejadian pasal 1).

Kontradiksi akhirnya lahir dari kedua sisi peradaban samawi pada saat itu—bahkan hingga sekarang (Yahudi dan Nasrani).
Yahudi, sabat diikrarkan sebagai hari istirahatnya Tuhan.

Sabat dalam linguistik global lebih merujuk pada hari istirahat. Atau dalam bahasa kita Indonesia adalah sabtu.

Di sinilah peran bahasa teramat sangat penting. Yang berujung pada pengaruh terhadap keeksistensian Tuhan itu sendiri. Sebab, dalam wejangan Syeh Siti Jenar, eksistensi Tuhan tak patut dipertanyakan, hanya dirasakan. Fana ilal Baqa’ (kembali ke ketiadaan). Juga yang sering diucapkan budayawan Sujiwo Tejo tentang pembathinan “ada yang tiada”.

Yahudi merayakan sabat (sabtu) setelah melakukan kebaktian di Sinagog pada Jum’at malam. Yahudi memeringati ini sebagai hari beristirahatnya Tuhan. Pada hari ini Yahudi juga menanti seorang mesias—yang dipercaya akan datang jika tekun mengkuduskan sabat itu sendiri.

“Apa agamamu?”
“Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu” Jokpin mengemukakan plural, kembali pada sajak yang sama. Agaknya penulis kita ini berusaha meredam konflik ragam kepercayaan pada penggalan sajak sebelumnya.

Apapun itu, seorang Muslim, Nasrani, Yahudi haruslah sepemahaman dalam hukum Taurat. Entah itu pada akhirnya sering lahir perbedaan pemahaman, sampai hari ini kita hanya bisa berdiskusi.

Sunnatullah (Hukum Alam) mencakup juga “perbedaan” di dalamnya. Bagian yang terpenting adalah (menurut saya) tetap tidak mempertanyakan keeksistensian Tuhan. Sebab, kita pun lahir dari bagian ruh-Nya (QS Al-Hijr 29-32).

Maka, yang paling mempunyai hak untuk beristirahat pada hari sabtu hanyalah Jomblo. Sebab, pada hari-hari lainnya—gerombolan manusia ini (jomblo) melintasi batas semesta semaunya di tengah mereka yang sedang bekerja untuk mencukupi kebutuhan akhir pekan demi membahagiakan kekasihnya