Aku benci matahari.

Ketika ia muncul dari timur dan mengusir malam. Lalu menghapus lengkung di bibir para pemimpi basah. Menjadikannya garis lurus yang kurus, atau membengkokkannya ke arah bawah.

Aku benci matahari.

Aku tak habis pikir bagaimana bisa orang Mesir kuno menjadikannya dewa dan memujanya. Sedangkan ia—di atas sana, dengan sombongnya memanggang kulit-kulit manusia hingga pori-pori mereka menitikan air mata. Tangis yang kita sebut keringat, hanya agar anak-anak mereka di rumah, tidak perlu menahan lapar sampai sekarat.

Aku benci matahari.

Ia tidak hanya arogan di atas sana—enggan turun ke sini, seolah bumi hanya tempat baginya meletakkan telapak kaki. Seperti keset kusut yang berjaga di depan pintu rumah seorang musuh, yang pernah dipaksa untuk mencium pipiku. Karena menganggap aku hina tak punya malu mencintaimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *