Sebuah Catatan Sejarah Nusantara yang dicoba dirangkaikan untuk menjadi BENANG MERAH SEJARAH NUSANTARA

Sejak ribuan tahun purbakala yang menjadi urat nadi hubungan laut antara dunia Barat dan dunia Timur adalah jalur pelayaran dan perdagangan lewat: Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda, sampai di Laut Cina Selatan. Pada jaman dahulu kala sampai abad ke-14 M, Semenanjung Malaya masih merupakan satu semenanjung tanah daratan kering memanjang sampai di ujungnya di wilayah Belitung (Pulau Belitung sekarang).

Pulau Jawa dan pulau Sumatra masih merupakan satu pulau yang panjang yang tersambung bersatu oleh sejalur tanah daratan kering di kawasan Panaitan (Pulau Panaitan sekarang) dan Ujung Kulon antara Lampung dan Jawa Barat. Pelabuhan Palembang masih terletak di tepi laut terbuka luas, yaitu Selat Malaka, dan tidak seperti sekarang berada di pedalaman sejauh 50 km dari tepi pantai. Begitu pula pelabuhan Jambi di Muara Tembesi (Muara Sabak) yaitu muara sungai Batanghari, masih terletak di tepi pantai laut terbuka Selat Malaka. Gunung Muria (Jepara) di Jawa Tengah masih merupakan suatu pulau terpisah dari daratan pulau Jawa.

Di kawasan sepanjang jalur perairan Nusantara ini, sejak ribuan tahun dahulu kala, telah bertumbuhan ratusan kerajaan-kerajaan kecil dan besar. Pelayaran dan perdagangan antar-pulau Nusantara dan dengan negeri-negeri luar di mancanegara telah berkembang ramai. Bahan-bahan dan barang- barang dagangannya diantaranya ialah: padi-padian, emas, perak, timah (bahan untuk perunggu), lada atau merica, rempah- rempah, alat-alat besi dan perunggu, gading gajah, dan banyak lagi lain-lainnya.

Kawasan Nusantara yang sangat strategis, subur makmur dan kaya-raya ini selalu menjadi pusat perebutan kekuasaan diantara kerajaan-kerajaan Nusantara sendiri.

ORANG ASING PERTAMA DI NUSANTARA

Th. 1500 – 1000 Sebelum Masehi

Pelabuhan Singkil: Di pantai Samudera Hindia, kawasan Tanah Batak. Sudah terkenal ke negeri-negeri di Mesir-kuno dan Timur Tengah. Raja Nabi Sulaeman (Salomo) mengutus orang-orang Pnoene­sia dari Sidon ke Singkil untuk membeli kamper di Singkil. Pelab­uhan Singkil dan Barus sudah menguasai ekspor dari Tanah Batak (kamper = kapur Barus).

Pelabuhan Sorkam dan pelabuhan Mungkur memegang monopoli dunia ekspor kemenyan. Penjual tunggal untuk seluruh dunia. Kemenyan sangat digemari oleh penduduk negri-negri di Timur Tengah dan Mesir-Kuno. Digemari oleh Raja Nabi Sulaeman dan oleh raja-raja Hemitik dan Semitik.

Pelabuhan Natal sangat banyak ekspor Emas. Begitu banyak sampai didatangi oleh pedagang-pedagang bangsa Phoenesia sebelum jaman Rumawi, sebelum jaman Yunani. Daerah pertambangan emasnya ialah Mandailing di Tanah Batak Selatan.

Catatan:

Sejak jaman Nabi Sulaeman (Th. 1000 SM) kota Damas­kus sudah merupakan pusat perdagangan distribusi rempah-rempah yang datang ke situ dari kepulauan Nusantara lewat jalan laut ke Kwang Tung (= Kanton) di negeri Cina, dan dari situ lewat jalan darat (jalan sutera) ke Damaskus.

Th. 100 Sebelum Masehi:

Orang Persia pertama datang di Nusantara, ialah di daerah pantai Aceh Utara.

Th. 22 Sebelum Masehi :

Orang Cina pertama datang di Nusan­tara, yaitu di daerah Kalimantan Utara.

Th. 78 Masehi : Orang Hindu pertama datang di Nusantara, ialah di daerah pantai Aceh Utara.

EKSPANSI CINA KE NUSANTARA. TH. 100 – 565 M.

Tahun 1000 Sebelum Masehi

Migrasi Cina ke Daratan Asia-Tenggara. Jaman Dinasti Chou Tahun 1122-249 SM.

Suatu suku bangsa Mongoloid yaitu suku bangsa Syan, terdesak oleh suku-suku bangsa Cina dan bermigrasi ke daerah-daerah daratan Asia Tenggara di sebelah Selatan. Di sana mereka bercampurbaur asimilasi dengan suku-suku bangsa pribumi asli seperti suku-suku bangsa: Karen, Senoi, Meo, Munda, Sakai, dan lain-lainnya. Suku-suku bangsa pribumi ini tergolong ras Nusantara, yang oleh orang Barat disebut Austronesia, dan yang sejak 600.000 tahun dahulu ka­la telah bermigrasi ke sana menjadi penduduk penghuni pertama di kawasan daratan Asia Tenggara pada masa jauh terlebih dahulu sebelum munculnya manusiapurba Cina-Mongoloid “Pekinensis” atau “Sinanthropus” di dunia. Sejak terjadinya asimilasi suku bangsa Syan dengan suku-suku bangsa pribumi itu, maka mulailah muncul kerajaan-kerajaan baru di kawasan daratan Asia Tenggara, yaitu kerajaan Syan yang kemudian disebut Syanka atau Siam; kerajaan Syan Pao Cha yang kemudian disebut Kam Pao Cha atau Kamboja; dan kerajaan Syan Pao Nam yang kemudian disebut Syan Nam atau An Nam dan Syan Pao, Syan Pa atau Campa. Kamboja dan Anam bersatu juga disebut Syan Pao Nam, Sya Pa Nao atau Yawana.

Tahun 210 Sebelum Masehi

Migrasi Cina ke Teluk Tongkin. Jaman Dinasti Ch’in Tahun 246-210 SM.

Kaisar Ch’in Shih Huang Ti di lembah sungai Hoang Ho (sungai Kuning) menaklukkan, menguasai dan mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan kecil dengan tangan-besi menjadi satu negara besar Cina. Banyak penduduk Cina yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Kaisar Ch’in. Sebagian dari mereka bermigrasi ke negeri-negeri di sekelilingnya. Sebagian penduduk yang bermigrasi itu meresap masuk menjarah ke daerah-daerah di sekitar Teluk Tongkin yaitu wilayah Hoa Binh dan Dongson do An Nam yang sekarang disebut Vietnam. Di sana mereka berdiam dalam perkampungan-perkampungan Cina atau pecinan-pecinan. Sementara orang Cina bercampurbaur asimilasi dengan suku-suku bangsa pribumi.

Tahun 100 Sebelum Masehi

Cina Menyerbu dan Menjajah Daerah Teluk Tongkin. Jaman Dynasti Han Tahun 206 SM. – 220 M. Bangsa Cina dari negeri Cina menyerbu, merampok, membunuh dan kemudian menjajah daerah-daerah kawasan Teluk Tongkin, yaitu negeri-negeri di kawasan An Nam dan Kamboja. Terjadi lagi migrasi besar-besaran penduduk dari negeri Cina ke daerah-daerah yang direbutnya itu dan mereka bertinggal disana dalam perkampungan-perkampungan Cina yang disebut pecinan. Teluk Tongkin dan seki­tarnya dijajah oleh negeri Cina.

Tahun 100 Masehi

Agama Budha Masuk ke Negeri Cina. Jaman Dinasti Han Tahun 206 SM -220 M.

Pada tahun 64 M Agama Budha dari India masuk ke negeri Cina, dibawa oleh orang-orang India lewat jalan darat di Asia Tengah.

Pada tahun 100 M. Agama Budha oleh Kaisar Han Wu Ti dijadikan “agama negara” atau “agama resmi” di negeri Cina. Keadaan Agama Budha demikian itu berlangsung sampai akhir jaman Dinasti Tang (Th. 618 – 906 M).

Tahun 100 – 400 M. :

Kerajaan Funan atau Fun An (=Pnom Penh). Jaman akhir Dinasti Han Th. 206 SM – 220 M.

Kerajaan Funan yang berdiri pada awal abad ke-2 M. Meliputi kawasan Kamboja, Siam dan Semenanjung Malaya bagian utara, mengusir penjajah Cina dari kawasan Teluk Tongkin. Kapal-kapal perang dan bajak-bajak laut Cina dihancurkan. Tetapi orang-orang Cina tetap bercokol di sana dalam pecinan-pecinan dan ikut hidup bernaung di bawah pemerintahan kerajaan Funan. Kemudian dalam abad ke-5 Kamboja melepaskan diri dari kerajaan Funan dan mendirikan kerajaan sendiri.

Catatan :

Sejak jaman ribuan tahun purbakala telah ramai berkembang lalu-lintas pelayaran dan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara dengan kerajaan-kerajaan di daerah Asia Tenggara.

Tahun 100 – 200 M

Negeri Cina Meluaskan Ekspansinya ke Nusantara. Jaman Akhir D1nasti Han Th. 206 SM – 220 M. Negeri Cina mulai mengembangkan ekspansi penjajahannya ke kawasan kepulauan Nusantara. berpangkalan di Kwan Tung (= Kanton) yang sekaligus dijadikan pusat bandar dan pelabuhan perdagangan di Cina Selatan. Dikirimkan ekspedisi-ekspedisi kapal dagang, kapal perang dan perampok-perampok, bajak-laut Cina ke Formusa (Taiwan), daerah-daerah Filipina ke daerah Kalimantan sebelah Utara, Laut Cina Selatan,Teluk Siam, Kalimantan Barat, Semenan­jung Malaya sampai masuk ke Selat Malaka. Sementara orang Cina ada yang menyasar terdampar ke daerah Minahasa di Sulawesi Utara.

Di tempat-tempat pelabuhan dagang ekspedisi-ekspedisi Cina itu menurunkan orang-orang Cina untuk menetap di sana sebagai pedagang. Mereka bertinggal dalam perkampungan-perkampungan Cina yang disebut pecinan. Banyak barang-barang hasil perdagangan dan hasil perampokan atau perampasan bajak-laut Cina mengalir ke Kwan Tung (Kanton) yang di waktu sebelum itu hanya menjadi pusat penampung perdagangan transit saja.

Bahan dan barang perdagangan itu dari Kwan Tang (Kanton) masuk ke pedalaman negeri Cina dan sebagian dari Peking diperdagang kan ke negeri-negeri di Asia Tengah sampai ke negeri-negeri di wilayah Rumawi melalui jalan darat (Jalan Sutera) di Asia Tengah.

Nusantara Sampai Tahun 1000-an

sekitar 100

Kerajaan “Dvipantara” atau “Jawa Dwipa” dilaporkan oleh cendikiawan India berada di Jawa dan Sumatra.

Aji Saka memperkenalkan sistem penulisan ke Jawa berdasarkan skirp dari India Selatan.

Raja-Raja Hindu menguasai daerah sekitar Kutai di Kalimantan.

Kerajaan “Langasuka” didirikan di sekitar Kedah di Malaya.

sekitar 130

Berdirinya kerajaan Salakanagara di Jawa Barat

Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, Salakanagara (Salaka = Perak) inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.

Raja pertama Salakanagara bernama Dewawarman yang berasal dari India. Ia mula-mula menjadi duta negaranya (Palawa, India) di Pulau Jawa. Kemudian Dewawarman menjadi menantu Aki Tirem atau Sang Aki Luhurmulya. Istrinya atau anak Aki Tirem bernama Pwahaci Larasati. Saat menjadi raja Salakanagara, Dewawarman I ini dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Permaisurinya bergelar Dewi Dwani Rahayu. Dewawarman berkuasa selama 38 tahun dari tahun 130 sampai 168M.

Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII).

Raja-raja Salakanagara:

Dewawarman II (Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra) 168 – 195 M
Dewawarman II (Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra) 168 – 195 M
Dewawarman III ( Prabu Singasagara Bimayasawirya) 195 – 238 M
Dewawarman IV (Darma Satyanagara) 238 – 251 M
Dewawarman V ( Darma Satyajaya) 251 – 289 M
Dewawarman VI (Prabu Gayanadewa Linggabumi) 289 – 308 M
Dewawarman VII (Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati) 308 – 340 M
Dewawarman VIII (Spatikarnawa Marmandewi) 340 – 362 M

Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa.

340

Prabu Bima Digjaya Satyaganapati (Dewawarman VII) wafat. Senapati Krodamaruta menggantikannya hanya selama 3 bulan.

Tibalah di Rajatapura, Senapati Krodamaruta dari Calankayana bersama beberapa ratus anggota pasukan lengkap. Krodamaruta adalah putera Senapati Gopala Jayengrana, yaitu putera Dewawarman VI yang keempat. Kodramaruta langsung merebut kekuasaan dan tanpa menghiraukan adat pergantian kekuasaan. ia dinobatkan menjadi penguasa Salakanagara.

Spatikarnawa Marmandewi puteri sulung Dewawarman VII, dinobatkan menjadi penguasa Salakanagara ia bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman. Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII, kehidupan penduduk makmur sentosa. Ia sangat memajukan kehidupan keagamaan. Kebanyakan penduduk pemeluk agama Ganesa atau Ganapati hanya sedikit yang memuja Wisnu dan Siwa.

358

Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395).

Salakanagara berubah menjadi kerajaan daerah.

Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga. Pada naskah wangsakerta, sebuah dokumen yang ditulis di cirebon bertahun tahun kemudian menunjukkan raja pertama Tarumanagara berkuasa sejak tahun 358 dan menerunkan raja raja sampai tahun 699. Jayasingawarman manjdi raja pertama Tarumanagara selama 24 tahun dari 358 – 382 M. selanjutnya penerus Kerajaan Tarumanagara antara lain :

Darmayawarman 382 – 395 M
Purnawarman 395 – 434 M
Wisnuwarman 434 – 455 M
Indrawarman 455 – 515 M
Gandrawarman 515 – 535 M
Suryawarman 535 – 561 M
Kertawarman 561 – 628 M
Sudawarman (adik Kertawarman) 628 – 639 M
Dewamurti 639 – 640 M
Nagajayawarman 640 – 666 M
Linggawarman 666 – 669 M

363

Kerajaan Indraprasta yang terletak di Cirebon Girang atau Cirebon Selatan (Sekarang Kabupaten Cirebon) didirikan oleh Sang Maharesi Santanu, seorang maharesi dari daerah Sungai Gangga India

Seperti halnya Sang Maharesi Jayasingwarman pendiri Tarumanagara, Sang Maharesi Santanu beserta para pengikutnya meninggalkan negeri asalnya untuk menyelamatkan diri dari kerajaan pasukan Samudra Gupta Maurya. Ia singgah di Srilanka dan Benggala, baru kemundian menuju Jawa Barat, yang pada waktu itu merupakan Salakanagara yang diperintah oleh Dewawarman VIII.

Sang Maharesi Santanu masih mempunyai pertalian kekeluargaan dengan Sang Dewawarman VIII. Santanu membangun sebuah desa di tepi Kali Cirebon, yang diberinya nama Indraprahasta. Gunung Cereme, yang berdiri dekat daerahnya, diberinama Indrakila dan Kali Cirebon yang melewati daerahnya diberi nama Gang-ganadi.

Kerajaan Indraprahasta kemudian berkembang menjadi kerajaan besar. Maharesi Santanu menjadi rajanya yang pertama (363 – 398 M) dengan gelar Praburesi Indraswara Sakala Kretabuwana.

397

Ibukota kerajan baru dibangun di daerah yg lebih dekat ke pantai oleh Maharaja Purnawarman (Raja Tarumanagara ketiga (395-434)). Ibukota kerajaan baru tersebut dinamai Sundapura — pertamakalinya nama “Sunda” digunakan.

398-399

Jayasatyanagara menjadi penerus Maharesi Santanu di Kerajaan Indraprasta. Jayasatyanagara menjadi raja kedua Indraprahasta (398 – 421 M). Dia adalah putra sulung dari permaisuri Indari.

Pada tahun 399 M, Jayasatyanagara harus mengakui kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman dari Tarumanagara. Sejak itulah Indraprahasta menjadi bawahan Tarumanagara.

417

Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

sekitar 425

Agama Budha sampai di Sumatra.

Catatan di Indonesia pada masa ini masih kurang, tapi kita tahu bahwa kebudayaan yang kompleks sudah terbentuk. Kerajaan-kerajaan di Sumatra dan Jawa ditunjukkan pada catatan-catatan dari Cina, karena para duta dikirim ke sana. Para pedagang Arab dan Persia juga mengetahui tentang darah tersebut, dan bahkan Romawi dan Yunani memiliki laporan dari jarak daerah yg sangat jauh.

Catatan dari Indonesia sangat sedikit, karena penulisan dilakukan pada daun palem dan bahan bahan lainnya yang tidak dapat bertahan lama. Banyak pengetahuan kita berdasarkan pada Bangunan atau Prasasti Batu. Pada saat kita mulai mendapatkan sejarah Sumatra dan Jawa secara jelas, telah ada bangunan-bangunan besar terbuat dari batu, perabotan-perabotan yang bagus, musik dan tarian tradisional sebanyakyang kita ketahui sekarang.

sekitar 500

Awal kerajaan Srivijaya di dekat Palembang

526

Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara.

sekitar 600

Kerajaan Melayu berkembang di sekitar (yang kita sebut sekarang) Jambi, di Sumatra.

Catatan Cina dari masa ini menunukkan kerajaan-kerajaan di Jambi dan Palembang di sumatra, dan tiga kerajaan di Jawa. Kerajaan sebelah barat berhubungan dengan Prasasti Taruma Negara, Kerajaan di bagian tengah disebut “Kalinga”, dan kerajaan sebelah timur dengan ibukota mungkin didekat Surabaya atau Malang.

612

Cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh.

Kata Galuh diartikan secara tradisional oleh orang Jawa Barat, galeuh atau inti. Dari pengertian tersebut, timbul pergeseran kata inti menjadi hati, sebagai inti dari manusia. Dalam pengertian lain, kata galeuh disejajarkan dengan kata galih, kata yang halus dari beuli(beli). Wajar jika dalam perkembangan selanjutnya, timbul dua sebutan Galuh Pakuan dengan Galih Pakuan.

Van Der Meulen mengemukakan tentang adanya tiga kerajaan Galuh, antara lain sebagai berikut :

1. Galuh Purba (Galuh Lama) yang berpusat di daerah Ciamis (Jawa Barat)

2. Galuh Utara (Galuh Baru = Galuh Lor = Galuh Luar) yang berpusat di daerah Dieng

3. Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya)

Kendan Cakal Bakal Galuh

Ndeh nihan carita parahiyangan. Sang Resiguru mangyuga Rajaputra miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahiyangta Dewaraja. Basa lamku ngarajaresi ngangaranan maneh Rahiyangta ni Medang Jati. Inya Sang Layuwatang. Nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung.

Terjemahannya :

” Ya inilah kisah para leluhur. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sangkandiawati, sepasang kakak-beradik. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahiyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi rajaresi menamakan dirinya Rahiyangta di Medang Jati, yaitu Sang Layuwatang. Dialah yang membangun balairung besar”. (Danasasmita, 1983)

Ternyata tokoh Resiguru dalam carita parahiyangan itu adalah menantu Sri Maharaja Suryawarman, penguasa Tarumanagara VII (515 – 535 M). Kisah Sang Rajaresiguru Manikmaya, Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa putera dan puteri. Salah seorang diantaranya bernama Rajaputra Suraliman.

Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman tampak ketampanannya dan sudah mahir ilmu perang (yuddhenipuna. Oleh karena itu ia diangkat menjadi Senapati dan kemudian menjadi panglima bala tentara (baladhika ning wadyabalad Tarumanagara, oleh kakeknya.

Setelah Sang Rajaresiguru Kendan wafat, Sang Baladhika Suraliman, dirajakan di Kendan sebagai penguasa baru. penobatan Rajaputra Suraliman berlangsung pada tanggal 12 bagia genap bulan Asuji tahun 490 saka ( 5 Oktober 568 M). Sang Suraliman selalu unggul dalam perang.

Dalam perkawinan dengan puteri Bakulapura (Kutai) keturunan keluarga Kundungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putera dan seorang puteri. Yang sulung bernama Sang Kandiawan. disebut juga Sang Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Dan sang adik bernama Sang Kandiawati.

Sang Suraliman menjadi Raja Kendan selama 29 tahun (568 – 597 M). Sang Suraliman digantikan oleh puteranya, Sang Kandiawan. Ketika ayahnya (Sang Suraliman) menjadi penguasa Kendan, Sang Kandiawan telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Karena itu ia digelari Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menjadi penguasa Kendan menggatikan ayahnya, ia berkedudukan di Medang Jati, tidak di Kendan. Sang Kandiawan menjadi Raja Kendan selama 15 tahun (567 – 612 M). Sang Kandiawan mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi petapa di Layung watang daerah Kuningan. Sebagai pengganti dirinya, ia menunjuk putera bungsu yaitu Sang Wretikandayun yang waktu itu sudah menjadi Rajaresi di Menir.

Seperti dalam cerita pantun Lutung Kasarung, tahta kerajaan oleh Prabu Tapa diwariskan kepada puterinya yang bungsu Purbasari. Dasar pertimbangannya, Purbalarang sebagai puteri sulung lebih terpikat oleh urusan duniawi.

Sang Wretikandayun dinobatkan menjadi penguasa baru menggantikan ayahnya pada tahun 534 saka atau 612 M. Ketika naik tahta, Sang Wretikandayun berusia 21 tahun. Ketika dinobatkan ia tidak berkedudukan di Kendan ataupun Medang Jati. Untuk pemerintahannya, Sang Wretikandayun mendirikan ibu kota baru yang diberi nama Galuh (Permata).

Galuh berada di lahan yang diapit oleh Sungai Cimuntur dan Citanduy. Lokasi bekas Galuh sekarang dikenal sebagai Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

669

Sang Maharaja Linggawarman, Raja Tarumanagara ke duabelas wafat. Beliau digantikan oleh menantunya, Sang Tarusbawa, dengan gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sunda Sembawa.

Penobatan dilangsungkan pada tanggal 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 M).

Ketika Tarumanagara diperintah oleh mertuanya, pamor kerajaanya sudah sedemikian merosot. Sang Tarusbawa berupaya mengembalikan kejayaan Tarumanagara seperti ketika pemerintahan di pegang oleh Purnawarman (395 – 434 M). Sang Tarusbawa lahir dan dibesarkan di Sundapura (Kota Sunda) bekas ibukota Tarumanagara.

Tindakan pertama, Sang Tarusbawa merubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda, mengambil nama kota kelahirannya yang waktu itu berfungsi dari sebutan Sundapura menjadi Sunda Sembawa (Tanah kabuyutan).

Tindakannya tersebut, dimanfaatkan oleh Sang Wretikandayun untuk memerdekakan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Kerajaan Sunda

sekitar 670

Seorang pengembara Cina mengunjungi Palembang, Ibukota Srivijaya.
Candi Hindu dibangun di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah.
Sekitar masa ini, Kerajaan Sunda pertama bangkit setelah berakhirnya kerajaan Tarumanegara.

686

Srivijaya mengambil alih kerajaan Melayu di Jambi, dan mengirim pasukan ekspedisi melawan kerajaan di Jawa.

Batu bertulis tertanggal 683 dan 686 dari sumatra selatan dan Bangka menggambarkan kegiatan militer Srivijaya melawan Melayu dan Jawa. Batu-tersebut adalah tulisan-tulisan Malayo-Polynesia tertua yang diketahui.

sekitar 700

Kerajaan Suwawa berkembang di Sulawesi Utara
Srivijaya telah menaklukkan Kedah, di semenanjung Malaya.

sekitar 732

Sanjaya mendirikan wangsa Sanjaya di Jawa Tengah.

sekitar 770

Raja Sailendra, Vishnu (atau Dharmatunga) mulai membangunn Borobudur.
Awal kegiatan pembangunan di Prambanan.

782

Raja Sailendra, Vishnu dilanjutkan oleh Indra (atau Sangramadhanamjaya)

sekitar 790

Kerajaan Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (sekarang Kamboja); menguasai Chenla selama sekitar 12 tahun.

sekitar 812

Raja Sailendra, Indra dilanjutkan oleh Samaratungga.

sekitar 825

Borobudur selesai dibangun, diabawah kekuasaan Samarunga.

sekitar 835

Samaratungga meninggal. Putranya Balaputra direbut tahtanya oleh mertua saudarinya, Patapan dari wangsa Sanjaya, yang menggantikan agama Budha di Jawa dengan Hindu.

sekitar 838

Patapan dilanjutkan oleh putranya Pikatan (atau Jatiningrat).

846

Kerajaan Tidore dikunjungi oleh utusan Khalifah Al-Mutawakkil dari Baghdad.

sekitar 850

Pikatan mengalahkan pasukan Balaputra, kemudian mengundurkan diri dari tahta untuk menjadi petapa. Dia dilanjutkan oleh Kayuwani.
Balaputra, yang berhak atas tahta Sailendra, melarikan diri ke Sumatra dan mengambil kekuasaan di Srivijaya.
Raja Warmadewa menguasai Bali.
Pada sekitar masa ini kita memiliki versi Ramayana dalam bahasa Jawa Kuno. Pengerjaannya cukup rumit, dan mungkin ada pengerjaan semacam ini sebelumnya yang tidak berhasil.

898

Raja Sanjaya, Balitung mengambil kekuasaan di Jawa Tengah.

Batu bertuliskan tentang Raja Balitung merupakan yang pertama menbutkan “Mataram” di Jawa Tengah.

910

Raja Sanjaya, Daksa meneruskan Balitung di Mataram. Dia mulai membangun candi Hindu yang besar, di Prambanan.

919

Raja Sanjaya, Tulodong meneruskan Daksa, berkuasa sampai 921

924

Raja Sanjaya, Wawa mengambil tahta Mataram. berkuasa sampai 928.

929

Raja Sanjaya, Mpu Sindok mengambil kuasa. Dia memindahkan pemerntahan dari Mataram ke Jawa Timur (dekat Jombang).
Letusan besar Gunung Merapi pada tahun 928 atau 929 menjadi alasan Raja Mataram pindah ke Timur.

947

Sri Isana Tunggawijaya, putri Mpu Sindok, meneruskan Mpu Sindok sebagai penguasa di Jawa Timur.
Raja Udayana dari Bali, ayah Airlangga, lahir.

985

Dharmavamsa menjadi raja Mataram. Dia menaklukkan Bali dan menemukan tempat tinggal di Kalimantan Barat. Dharmavamsa juga dikenang karena memerintahkan penerjemahan Mahabarata kedalam bahasa Jawa.

992

Raja Chulamanivarmadeva dari Srivijaya mengirimkan duta besar ke Cina untuk meminta perlindungan terhadap pasukan Dharmavamsa dari Jawa.

1006

Srivijaya menyerang dan menghancurkan ibukota Mataram. Istananya dibakar, dan Dharmavamsa terbunuh. Airlangga (15 tahun) melarikan diri. Beberapa tahun kekacauan terjadi di Jawa Timur setelahnya.

Tahun (M)

Epitomae (Irisan) Sejarah Indonesia, Nusantara dan Dunia (1000 – 1500 M)

Tahun (M)

Airlangga, raja di Jawa Timur Airlangga adalah menantu dari Darmawangsa, pada saat serangan balik Sriwijaya yang berhasil membunuh Darmawangsa Airlangga sempat menghindar ke dalam hutan. Airlangga kemudian mempersatukan kembali. Tahun 1019 dia sudah menguasai daerah Pasuruan dan usaha ini termasuk perang berlangsung sampai 1035 dan efektif menguasai seluruh Jawa bagian Timur. Pada masa ini Mpu Kanwa penyair istana menuliskan kisah Arjunawiwaha dan Mahabrata yang disesuaikan dengan kisah hidup Airlangga, menurut kisah, Airlangga membagi dua kerajaan untuk dua orang putranya menjadi Janggala dan Kadiri.

Makam Airlangga (kiri) di Belahan, di lereng Gunung Penanggungan ,Kediri, Jawa Timur. Dua arca yang di depan adalah permaisuri Wisnu yang berfungsi sebagai pancuran air. Pada bagian tengah yang tertutup terdapat arca Wisnu (kanan) yang dipercayai sebagai Airlangga. Seperti halnya ayahnya Udayana yang juga dimakamkan di lereng Barat gunung Penanggungan.

Airlangga dianggap sama dengan Wisnu berarti dia seorang raja yang perkasa, nampak dengan menunggang burung garuda bertubuh manusia sedang menginjak dua ekor ular. Perhatikan perbedaan antara sikap yang tenang pada penunggangnya dan kegelisahan pada burung garuda.

Jayabaya, rajaKediri, mempersatukan kembali Kadiri dan Janggala, penulisan Barathayuda.

Kertajaya, rajaKediri, mengurangi peran kaum Brahmana, yang berakibat konflik dan kalahnya Kertajaya berakhir pula kerajaanKediri.

1190-1222

Rajasa Amurwabhumi (Ken Angrok) raja Kerajaan Singosari.

Ken Angrok yang berasal dari rakyat biasa, membunuh Tunggul Ametung bupati Tumapel, memperistri Ken Dedes janda Tunggul Ametung, menaklukkanKediridan membangun dinasti Girindrawangsa

1222-1227

Anusapati, raja di Singosari

1247-1248

Wisynuwardhana, raja di Singosari

1260-1295

Cina dipersatukan dibawah emperor Kubilai Khan (Mongol). Ekspansi pertama ke Selatan

Kertanagara, raja Singosari.

· Membangun pusat pemerintahan Singosari
· Mengadakan perlawanan terhadap hegemoni Kubulai Khan
· Mengadakan aliansi dengan Campa menghadapi Mongol
· Menolak mengakui Mongol setelah Campa jatuh ke bawah Mongol.
· Terbunuh oleh Jayakatwang vasal Singosari.

Patung dalam bentuk hari-hara ardhanari yang diyakini sebagai Kartanegara.

Museum furVolker Kunde,Berlintahun 1865

1268-1292

1270

Kemunculan kerajaan Islam Samudra Pasai (kotaPerlak) di ujung Sumatera, dengan penguasa pertama, Malik Al Saleh, yang makamnya bertarikh 696 H (1297 M.

1307-1368

Perlawanan di Cina mengusir Mongol, dan berdirinya Dinasti Ming

Marcopolo mengunjungi Sumatera

1292

Raden Wijaya mengusir pasukan Kubilai Khan (Mongol) yang akan menghukum Kartanegara dan Jawa dan mendirikan Majapahit dan menjadi raja pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana

1294-1309

Jayanegara putra mahkota Kertarajasa Jayawardhana dengan Dara Petak putri Melayu , menjadi raja Majapahit. Jayanegara dibunuh oleh tabib Tancha, yang kemudian dibunuh oleh Gajah Mada.

1309-1328

Tribuana Wijayottunggadewi

Jayanegara tidak berputra, yang menggantikan seharusnya Gayatri yang menjadi pertapa, maka anaknya Sri Gitarja menggantikan dan bergelar Tribuana. Dia memerintah didampingi suaminya Kertawardhana. Tribuana mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih.

Dibantu Adityawarman, Gajah Mada menaklukkanBali(1334)

1329-1350

1355

Ibnu Batutah (1304-1369),Tangier,Morocco, membukukan riwayat perjalannya sejauh 120,000 km menjelajahi negeri-negeri Muslim, termasuk perjalanannya ke Cina dan Sumatera.

1337-1453

Perang 100 tahun. Legalitas raja-raja abad pertengahan seringkali berkaitan antar satu kerajaan dengan lainnya. Raja William I dari Normandi menaklukkanEngland 1066, kemudian perkawinan dan aliansi telah merobah hak English di daerah Perancis. Pada waktu meninggalnya raja Perancis Charles IV pada 1328, Edwar III dari England yang juga adalah Duke dari Guyenne (Selatan Perancis) dan Count dari Ponthieu (English Channel) dan ibu dari Edward II adalah saudara Charles IV yang tidak punya putra, maka Edward III merasa berhak atas tahta Perancis. Count Valois yang merupakan cucu dari Philip III (Perancis) juga mengklaim tahta itu. Bangsawan Perancis memilih Philip VI, yang merampas tanah Edward III, dan berakhir dengan perang yang berkepanjangan selamalima generasi.

1349

Hayam Wuruk (Rajasanagara) raja Majapahit

Gajah Mada masih menjadi Mahapatih Majapahit, legenda sumpah Palapa oleh Gajahmada bersumber dari buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 semasa Hayam Wuruk. pada masa ini Majapahit mendapat masa keemasan dengan keberhasilan penaklukan (setidaknya hegemoni) banyak kerajaan lain seantero Nusantara

1350-1389

Majapahit menaklukkan Palembang dan tumbuhnya Malaka

Parameswara diyakini sebagai seorang pangeran dari Palembang yang berhasil meloloskan diri dari serangan Majapahit, melarikan diri ke semenanjung Malaya, menemukan pelabuhan yang bagus dibagian paling sempit dari selat Malaka dan mendirikan kota pelabuhan Malaka.

Malaka bergerak menaklukkan daerah-daerah di kedua sisi Selat Malaka yang menghasilkan bahan pangan, timah, emas, dan lada, sehingga meningkatkan kemakmuran dan posisi strategisnya. Pada tahun 1480, kerajaan ini menguasai pusat-pusat penduduk yang penting di seluruh SemenanjungMalayabagian Selatan dan pantai Timur Sumatera bagian tengah.

Pada mulanya, Parameswara adalah seorang raja yang ber­agama Hindu—Budha, tampaknya pada masa akhir pemerintahannya (1390-1414), dia menganut agama Islam dan memakai nama Iskandar Syah. Dua orang penggantinya, Megat Iskandar Syah (1414-1424) dan Muhammad Syah (1424-1444), beragama Islam. Akan tetapi, ada kemungkinan telah terjadi suatu reaksi dari kalangan Hindu-Budha selama masa pemerintahan raja keempat, Parameswara Dewa Syah (1445-6), yang tampaknya terbunuh dalam suatu kudeta yang dilancarkan orang Islam dan digantikan oleh saudara sepupunya, Sultan Muzaffar Syah (1446-1459). Setelah itu, posisi Islam semakin tidak tersaingi.

Aspek yang paling menarik dari Malaka bagi sejarahIndo­nesiaini ialah jaringan perdagangannya yang sangat luas yang membentang sampai ke pulau-pulau diIndonesia. Tome Pires, penulis Portugis, telah melukiskan kebesaran sistem ini dengan semangat yang mungkin berlebihan, tetapi deskripsi umumnya jelas dapat dipercaya.

1377

Perang Bubat

Titik balik perluasan Majapahit berakhir dengan Perang Bubat yang terjadi antara kerajaan Sunda dengan Majapahit. Bermula dari rencana perkawinan politik Hayam Wuruj dengan Dyah Pitaloka (citraresmi) dari Sunda. Sewaktu pengantin dan rombongan samapai di Majapahit (Trowulan), Gajah Mada menghendaki pengantin dipersembahkan lebih dulu kepada Hayam Wuruk sebelum perkawinan dilaksanakan. Hal itu tidak bisa diterima oleh rombongan Sunda, dan peperangan di Bubat. Semua rombongan dan pengantin terbunuh.

Catatan: Dua negara besar pada abad XIV dan XV, Majapahit dan Malaka, Majapahit adalah negara Hindu-Budha,. sementara Malaka, walaupun merupakan negara terpenting di nusantara bagian barat, terletak di kawasan yang sekarang menjadi negeri Malaysia. Sejarah yang rinci mengenai Majapahit sangat tidak jelas. Sumber-sumbernya yang utama adalah prasasti-prasasti berbahasa lawa Kuno, naskah Desawarnana atau Negarakertagama berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada tahun 1365 (dikenal hanya dalam manuskrip-manuskrip yang lebih kemudian), naskah Pararaton berbahasa Jawa Tengahan (yang dikenal dari salinan-salinan yang lebih kemudian yang ditemukan di PulauBali), dan beberapa catatan berbahasa Cina. Keterpercayaan semua sumber yang berbahasa Jawa tersebut telah disangsikan oleh C.C. Berg, yang menyatakan bahwa sumber-surnber itu harus dipandang bukan sebagai dokumen-dokumen sejarah, melainkan sebagai dokumen-dokumen sakti, yang harus dipahami dalam konteks mitos-mitos politiko-religius yang menjadi perhatian para penulis catatan-catatan tersebut. Berg beranggapan bahwa naskah-naskah itu tidak dimaksudkan untuk rnerekam peristiwa-peristiwa masa lampau,

1379

1403

Kaisar Ming (China) memulai politik ekspansi ke Selatan

Vikramawardhana raja Majapahit

1389-1429

Cheng Ho (seorang Muslim) duta besar KaisarChinamengunjungi Sumatera dan Jawa dan memaksa semua raja Jawa dan Sumatera mengakui kekuasaan Cina. Sekaligus masuknya Islam dari Cina.

1405

Makam Maulana Malik Ibrahim, makam Muslim pertama di Gresik

1419

Ratu Suhita menjadi raja Majapahit

Wijayaparakramawardhana (Bre Tumapel) raja Majapahit

1447-1451

Rajasawardhana (Bre Pamotan) raja Majapahit

1451-1453

Girisawardhana (Bre Wengker) raja Majapahit

1456-1466

Singhawikramawardhana (Bre Pandan Salar) raja Majapahit

One thought on “CATATAN SEJARAH NUSANTARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *