Ini, ada nada-nada yang tidak cukup terdengar oleh sekedar telinga.

Bunyinya nyaring, semurni dentuman atom. 
Liriknya indah senyata gempa pada mayapada. Serta golak-golek malaikat di suralaya menambah gempita nuansa roman yang aku pendam.

Coba lagi, sekali lagi dengarkan baik-baik. Tidak terdengarkah olehmu lantunan nan merdu itu?

Kisah memang semacam nostalgia. Kadang bahkan hanya serupa dongeng pengantar lelap. 
Tapi tahukah kamu?

Bintang kejora mengerlip seakan meyakinkan batin. Bahwa pada akhirnya kisah itu masih akan berlanjut. Kisah yang menjadi asal muasal bunyi-bunyian ini.

Karena pada dasarnya, sejarah akan mencatat, bahwa dunia terlalu sempit untuk menampung cerita kita.

Lalu tidak perlu semua orang tahu. Tidak perlu pula ditulis dalam banyak buku. Cukup semesta yang mengerti. Cukup semesta yang memahami.

Coba kau dengar sekali lagi. Dari dalam kamar, di dalam selimut, di balik kausku, di balik kulit tubuhku, di antara tulang-tulang dan darahku, di sanalah kau akan menemukan nada-nada itu.

Jangan tanya di mana persisnya. Karena aku tidak tahu pasti hatiku berada di sebelah mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *