Bukannya Masih Ada?

Bukankah masih ada jenis manusia yang di luarnya bahagia tetapi dalamnya terpuruk luar biasa?

Bukankah juga masih ada seseorang yang selalu membuat sekitarnya gembira, tetapi hatinya sendiri gundah gulana?

Inginnya terlihat baik-baik saja padahal sungguh dia teramat nelangsa.
 

Dia pikir, tak perlu ada yang tahu kecuali Tuhannya.
 Dia pikir, Tuhan melahirkannya memang untuk membuat banyak orang tertawa, walau mungkin hanya akan ada seorang saja yang bisa membuatnya lepas tanpa pernah melihat lukanya.

Betapa dia sangat tegar tanpa ingin terlihat menderita.
 

Orang lain melihatnya tanpa duka, karena mereka tak tahu luka apa yang membuatnya bisa selalu ceria.

Baginya, memang urusan hidupnya hanyalah miliknya.
 Baginya, biarkan dia terus menebar bahagia untuk sekitarnya.
Perihal dirinya sendiri, itu nanti urusan selanjutnya.

Bukankah masih ada seseorang seperti itu di dunia?

Luculent

Dan di atas jagat raya yang luas. Kami lebih banyak menginjak daripada bersujud. 

Pada udara yang melimpah. Kami lebih banyak mengeluh dibanding bersyukur. 

Pada hamparan cinta seluas alam raya. Kami lebih banyak berharap daripada memberi.

Refleksi Waktu

Pikiranku baru saja berkelana ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana air mata lebih sering turun daripada hujan. 

Ke tempat di mana jarak antara langit dan bumi lebih dekat dari dua pasang sorot mata yang tak bisa bertemu. 

Ke tempat di mana ketakutan-ketakutan itu ada, dan khawatir bisa saja tiba-tiba lahir. Ke tempat di mana skenario kita jadi begitu rahasia dan tak terprediksi. 

Ke tempat di mana kata pisah menjadi batas yang sangat menyakitkan. Ke tempat di mana kamu mungkin saja tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir. 

Tiba-tiba saja, aku ingin tahu. Tiba-tiba saja aku penasaran. Tiba-tiba saja aku ingin mencicil rasa lebih dini. 

Hingga aku mengerti bahwa aku salah. Sekejap aku memejam, aku tahu waktu tidak pernah bisa diam. Waktu terus berjalan, pilihan-pilihan terus bergantungan dan kamu tak bisa menghindar dari hari esok. 

Namun, bukankah kita bisa menggelar tikar, lalu piknik di atas tanah yang sempit? Karena langit kemana kita menadah akan tetap sama, luas. 

Lalu, kenapa kita lebih banyak menguatirkan tentang perpisahan dan lupa menghargai sebuah pertemuan? 

Kenapa kita lebih banyak menguatirkan hari terakhir dan lupa menikmati hari-hari yang sedang hadir? 

Kenapa kita lebih banyak menyesali yang terjadi dan tak mencoba memperbaiki yang ada? Karena pada akhirnya bukan perpisahan yang seharusnya kita kuatirkan, tapi mengabaikan skenario yang sudah Tuhan rancangkan. 

Buat apa kamu takut dengan waktu yg terbatas, kalau kamu bisa jatuh hati di setiap hembusan nafas? 

Kekhawatiran hari ini cukup jadi porsi hari ini, karena esok ada bagiannya sendiri. 

Tenanglah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. 
Karena kamu tidak perlu menguatirkan apa yang sudah dikendalikan Tuhan

Renungan Malam Takbir

Saudara-saudaraku, kawan-kawanku belalah agamamu dengan mengasihi ke semua mahluk tanpa pilih kasih, berzakat, menolong siapapun yg membutuhkan pertolongan, tidak mudah menghakimi, balaslah orang- orang yang menyakitimu dengan doa agar mereka dibukakan hidayah tentang kasihNya, maafkan juga yg memusuhimu. 

Karena ingatlah bahwa orang-orang yg mudah  menyakiti dan membenci mahluk lain sesungguhnya sangat amat tidak bahagia, ketidakbahagiaan inilah yg hanya bisa mereka bagi ke mahluk lain. Kasihan mereka. 

Ingat saudara-saudaraku hakekat tertinggi Tuhan ada pada Ar Rahman Ar Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap kita selalu diajari untuk mengucap Bismillah dalam segala hal, resapi itu dan manifestasikan dalam perbuatanmu ke semua mahluk. 

Ingat, jika mau dalam sekejap Tuhan bisa menciptakan segalanya seragam, tetapi mengapa tidak? Jadilah cerdas, Tuhan sedang ingin menunjukkan kasih sayangNya yg Maha Besar.  

Seperti naik ke puncak gunung, kita bisa naik dari sisi manapun bahkan sewa Uber helikopter sekalipun. Bayangkan di atas dari sisi maanapun kalian naik maka di atas kalian sama-sama melihat pemandangan yg sama, langit yg sama.

Jadi, selalu melihat setiap mahluk sebagai satu jiwa yg sama, jangan sekali-kali melihat mereka dari agama, warna kulit atau label yg lain, selalu pancarkan kasih sayang ke mereka. 

Jika kamu ingin mengkritik seseorang kritiklah dengan dasar Cinta bukan dengan dasar rasa benci. Ingat! jika kalian membenci maka sesungguhnya kalian sedang menista Tuhan, bagaimana mungkin tempatnya yg paling suci kalian isi dengan rasa benci? 

Hati, ya hati itulah tempat tertinggi Tuhan.