Di kepalaku, lahir kebun-kebun bunga

aroma bermacam kelopak semerbak

yang wangi menyedak ingatan

tentang masa kanak-kanak.

“nak, bermainlah keluar” kata Ayah padaku

sebab ia tak mau anaknya hanya menonton

keruh di raut bocah kecilnya yang monoton.

“maka coba gerakkan sedikit kaki-kakimu”

Ujar Ayah coba ajarkan langkah

walau dengan kepala pening.

Bagi Ayah, mencoba adalah hal penting 

dengan gigil kecil di tubuh mungilku

kugapai sepuntung-dua panting

meski akhirnya tubuh terpelanting.

Masa kecil adalah segelintir

memori yang kini jadi memoar

kian tumbuh pesat seolah akar.

Di kebun kepala kecil yang menua

pernah sekali-dua kali terserang hama

beberapa ranum bunga hilang rupa

dilalap lupa.

Aku dan langkah-langkah kecil

menata setapak kerdil

sebab ingatan cepat menguap

seperti air di tanah kemarau

sebelum adanya lenyap

kusimpan bulir-bulirnya

dalam toples waktu

dari ingatan-ingatan lalu

setetes-dua tetes masuk bibir

kucicip dan tak pernah ada habis.

Hujan mengalir deras

dari mataku yang hilir

tertuju dadaku yang getir

sebuah belantara masa

tempat segala kenang

tersesat dan hilang

kini ia tergenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *