Sunyi -Kau Tunggu Aku- Mati

Suatu hari, aku berharap dapat menangkupmu dalam tulisanku, dalam kalimat-kalimat yang kutuangkan pada prosa.

Malam ini aku terduduk di tepi bingkai jendela, dalam sudut kesendirian yang kuhabiskan berjam-jam di kamar. Aku lihat warna langitnya berganti. 

Mulai dari biru pudar dengan gerumbul gemawan putih mengambang, selang kemudian angin bertiup berganti arah, mendatangkan awan yang berarak dari selatan, tebal bergulung-gulung kelabu, siap menjatuhi bumi dengan rintikan hujan -dalam imajiku-.

Kau ingat, sunyi, aku begitu menyayangimu. Sekarangpun masih tak ada beda. 

Hanya saja kau sudah tiada sama seperti dulu. Aku tertawa, pada rintikan hujan yang berderai di teritis depan kamar. Airnya terpercik kemana-mana.

Hidupku demikian jenaka, sampai aku bahkan tak tahan untuk tidak menertawai plot ceritanya.

Eh, Sunyi, ini sudah terasa lama. Kau masih saja menunggui di lamunanku, berdiam dalam kenangan yang akan menenggelamkanku jika ku tuang kelewat banyak dalam kontemplasi saban hari.

Belum lagi kalau kau berkunjung dalam mimpi-mimpi sepanjang malam, memelukku erat. Ingat tidak, aku sering mengigau dan terbangun dengan air mata berlinangan, dengan dada sesak dan nafas tersengal.

Kenapa demikian?

Apa karena kau juga paham bahwa waktuku tak banyak?

Ah Sunyi, kau harus tahu, aku tak hanya sekedar menghabiskan hari menunggu mati.

You ruin your life by desensitizing yourself. We are all afraid to say too much, to feel too deeply, to let people know what they mean to us. 

Caring is not synonymous with crazy. Expressing to someone how special they are to you will make you vulnerable. There is no denying that. 

However, that is nothing to be ashamed of. There is something breathtakingly beautiful in the moments of smaller magic that occur when you strip down and are honest with those who are important to you. 

Let that girl know that she inspires you. Tell your mother you love her in front of your friends. 

Express, express, express. Open yourself up, do not harden yourself to the world, and be bold in who, and how you love. 

There is courage in that.

Sosok Wanita Disebut Ibu

Ada cerita yang ku gantung di pelupuk sukma. Ini tentang kasih seorang ibu yang besarnya tiada hingga
. Tentang ia yang habiskan sisa hidupnya untuk tertawa; entah dusta atau nyata.

Demi aku, seorang insan yang terkadang lupa cara berterimakasih padanya. Ada ucap yang kusesal tiap detakan masa
. Acap kali ku berkata cela, hanya kerut di ujung bibirnya yang berkata: ia tetap percaya pada tiap kata yang kuutara
.

Ini tak pelak membuatku geram
, sepantas apa aku menerima tiap senandung sayapnya?

Getir; aku hanya bocah berbalut dosa
, namun aku ingin bunda berlama-lama mendampingiku
. Sebab, masih ada begitu banyak perkataan yang tak bisa ku ucap
. Sebab, masih ada sedikit sekali tingkahku yang bisa membanggakan.

Bunda, tak perlu khawatir pada senja yang acap kali tiba. 
Karena aku akan ada, di balik tingkah tengilku; mengenggam tanganmu.

Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang terbakar kemerahan; tapi aku tahu cara menghargaimu kini
. Bersamamu, hidup adalah panggung lakon teristimewa.

Simple Happiness

Hey dek, 
tawamu kencang sekali 
seperti tak ada dosa yang melekat pada tubuh mungilmu.
Tangismu amat menjengkelkan
 mirip celoteh jangrik yang bersembunyi di balik ilalang— bahkan jauh lebih kencang.

Hampir setiap sore —yang ku ingat— keringatmu selalu bercucuran 
padahal bedak sudah ditabur seluruh wajah dan lalu 
ibumu hanya marah, aku geli tertawa.

Dulu pernah bolaku kau hilangkan, pot di beranda kau tendang, macam setan tingkahmu kawan, 
tapi kadang tingkahmu bak malaikat tak bersayap, ingin kucubit pipi merona itu.

Sering kau teriakan namaku berkali-kali sampai bosan aku meresponnya, kadang ku tanya apa jawabnya apa. Kau ini amat lugu, berhitung pun belum mampu, bilang R saja ragu-ragu, ah, gemas aku.

Selalu kau tuntun kendaraanmu, padahal jelas kau bisa mengayuhnya, semoga alasanmu melakukan itu tak serumit konspirasi bumi itu bulat atau datar.

Tapi, sungguh, ku berterimakasih untuk sore tadi kala kau tersenyum dan menyerukan namaku saat aku merasa sedang kacau-kacaunya.

Tak tahu aku siapa yang mengutusmu tuk melakukan itu, tapi sungguh, itu membuatku sadar bahwa betapa sederhananya kebahagiaanku.

Senyum tanpa dosamu yang membuatku sadar tak perlu risau akan perihal yang tak bisaku ubah, barangkali memang sudah seharusnya seperti itu.

Aku lupa bagaimana berbahagia seperti kau yang melompat-lompat di atas genangan—padahal ibumu barusan memandikanmu.

Ku buat entah apa ini namanya hanya tuk berterimakasih, sebab telah terlahir di keluarga sebelah rumahku

~dari tetanggamu

Anomali Anonimous

Dalam pikirmu, aku adalah bayang masa lalu.

Terlipat rapi di sudut hati dan kepala yang tak lagi kau jamah
.

Dalam matamu, aku adalah refleksi kenaifan diri.

Peringatan untuk tidak mengulang kebodohan yang sama.

Bagimu, aku adalah kesalahan terbesar dalam hidup.

Bagiku, kau adalah anomali dari semua yang kau pikir tentangku.