Renungan Malam Takbir

Saudara-saudaraku, kawan-kawanku belalah agamamu dengan mengasihi ke semua mahluk tanpa pilih kasih, berzakat, menolong siapapun yg membutuhkan pertolongan, tidak mudah menghakimi, balaslah orang- orang yang menyakitimu dengan doa agar mereka dibukakan hidayah tentang kasihNya, maafkan juga yg memusuhimu. 

Karena ingatlah bahwa orang-orang yg mudah  menyakiti dan membenci mahluk lain sesungguhnya sangat amat tidak bahagia, ketidakbahagiaan inilah yg hanya bisa mereka bagi ke mahluk lain. Kasihan mereka. 

Ingat saudara-saudaraku hakekat tertinggi Tuhan ada pada Ar Rahman Ar Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap kita selalu diajari untuk mengucap Bismillah dalam segala hal, resapi itu dan manifestasikan dalam perbuatanmu ke semua mahluk. 

Ingat, jika mau dalam sekejap Tuhan bisa menciptakan segalanya seragam, tetapi mengapa tidak? Jadilah cerdas, Tuhan sedang ingin menunjukkan kasih sayangNya yg Maha Besar.  

Seperti naik ke puncak gunung, kita bisa naik dari sisi manapun bahkan sewa Uber helikopter sekalipun. Bayangkan di atas dari sisi maanapun kalian naik maka di atas kalian sama-sama melihat pemandangan yg sama, langit yg sama.

Jadi, selalu melihat setiap mahluk sebagai satu jiwa yg sama, jangan sekali-kali melihat mereka dari agama, warna kulit atau label yg lain, selalu pancarkan kasih sayang ke mereka. 

Jika kamu ingin mengkritik seseorang kritiklah dengan dasar Cinta bukan dengan dasar rasa benci. Ingat! jika kalian membenci maka sesungguhnya kalian sedang menista Tuhan, bagaimana mungkin tempatnya yg paling suci kalian isi dengan rasa benci? 

Hati, ya hati itulah tempat tertinggi Tuhan.

Penakut

Kamu tak ingin mencintaiku(?)

Karena kamu tahu, yang terbaik dariku akan selalu untuk bahagiamu. 
Dan, kamu tak cukup berani untuk menghadapi keberanian semacam itu.

Karena kamu tahu, aku tak mempermainkan cinta seperti yang mereka bisa. 
Dan, kamu tak cukup berani untuk menyaksikan cinta yang benar dan luar biasa.

Karena kamu tahu, bagian diri yang paling kamu benci mampu ku dekap dan ku cintai.
 Dan, kamu tak cukup berani untuk menyaksikan bagian diri yang paling kamu benci tengah didekap dan dicintai.

Karena kamu tahu, kamu tak akan menemukan aku di dalam diri siapapun.
Dan, kamu tak cukup berani bila kelak kamu tak dapat menemukan siapapun.

Karena kamu tahu, kamu pasti akan mencintaiku.
 Dan, kamu tak cukup berani untuk menerima hatimu sendiri.

Sibuk dan “Menyibukan Diri”

Kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai

“…Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan,“ tulis Kahlil Gibran dalam suratnya kepada May Ziadah bertanggal 1-3 Desember 1923 itu. “Dan menikmati kedamaian sekaligus melupakan penderitaan hidup…”
Tapi, andai Kahlil menulis itu di masa Chairil Anwar, mungkin suratnya jadi aneh, jadi labil.

Itu karena Februari 1943, Chairil menulis di selembar kertas: ”… Sedang aku mengembara serupa Ahasveros…“

Mungkin tak berlebihan jika dalam salah satu esainya Saut Situmorang menyatakan bahwa puisi “Tak Sepadan” itu adalah puisi lirik terbaik yang pernah ada di Indonesia. Mungkin saja. Apalagi, hampir dalam seluruh pusinya, Chairil terlihat sibuk (sendiri?) hingga kata-katanya padat dan ringkas. Begitu pula dengan puisi tersebut.

Maka dari itu kita juga curiga kalau Chairil bukanlah “pecinta yang benar”, yang transendental. Tapi hal itu, agaknya, terjadi sebelum sastrawan Angkatan ‘45 tersebut bersua Sumirat.

Ada banyak riwayat yang menulis bahwa Chairil bertemu Mirat di Pantai Cilincing, Jakarta. Kemudian juga di rumah pelukis Affandi. Tapi kiranya yang kedua lebih mendekati. Itu karena Mirat diketahui memang berguru pada sang maestro seni lukis Indonesia tersebut.

Singkat cerita, dari perkenalan yang tak biasa itu, keduanya saling jatuh hati. Tahun 1948, ketika Chairil datang untuk melamar Mirat, hidupnya yang sibuk itu tiba-tiba jadi lesu: ayah Mirat menolak bujukan sang calon menantu.

Kita bayangkan Chairil pulang dengan hati masygul dan bukan dengan lagaknya kala mengisap rokok yang sering jadi kolase itu. Lalu di salah satu koran di masa itu, ada sebuah puisi yang digadang-gadang kepunyaan Chairil. Puisi itu berjudul “Berpisah dengan Mirat”: suasana puisi itu, agaknya, memang suasana Chairil yang selalu saja merasa “…tambah terasing dari cinta sekolah rendah.”

Para penyair, kiranya, akrab dengan penderitaan – “juga kematian,” tambah Subagio Sastrowardoyo.

Itu pula yang terjadi kepada Chairil. Cintanya yang mulai tak lagi sibuk dan stabil itu harus remuk karena sebuah penolakan. Rindunya yang khusyuk itu kemudian jadi tenaga dalam puisi-puisinya yang lain – setelah 1948 yang “menyakitkan” itu. 

Ketika pemberontakan PKI 1948 di Madiun meletus, Mirat tak sempat menyelamatkan puisi-puisi yang ditulis Chairil untuknya. Jumlahnya mungkin satu atau dua koper.

Hingga tiba ini: 1949, Chairil pun mengembuskan napas terakhir. Tapi nasib kawan akrab pelukis Basoeki Resobowo itu memang merupa salah satu puisi terjemahannya untuk sajak John Cornford, “To Margot Heinemann”, yang dalam bahasa Indonesia menjadi “Huesca”:

“…dan jika untung malang menghamparkan 
aku dalam kuburan dangkal, 
ingatlah sebisamu segala yang baik
 dan cintaku yang kekal.”

Hanya saja, Kahlil menulis suratnya untuk May Ziadah pada tahun 1923, bukan 1943-1949. Tapi mungkin Kahlil juga merasakan bahwa kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai.

Memperingati wafatnya Si “Binatang Jalang” 

Jakarta, 270417

Cigarette

Let me be your cigarette, 
you can put me right between your teeth and smoke me when you’re stressed 
or when you simply miss the taste of my breath

Inhale me right in and make a home for me in your lungs rather than your rib cage,
 a heart is never enough for love nowadays — they say.

So darling won’t you light me up and never quit me, show me how far
 you’d go for me.

For all i seek is to be something that you’re addicted to.

With no promises made, no pretty lies and dying forevers.

Only a cigarette that’s enough to put you in the grave one day.

While knowing that, yet trusting that it won’t while knowing that, yet not caring if it will

How beautiful a love like that could be?

So baby let me be your cigarette, one you smoke day after day.

Inhale me all in till i eventually take all your breath away.

Sunyi -Kau Tunggu Aku- Mati

Suatu hari, aku berharap dapat menangkupmu dalam tulisanku, dalam kalimat-kalimat yang kutuangkan pada prosa.

Malam ini aku terduduk di tepi bingkai jendela, dalam sudut kesendirian yang kuhabiskan berjam-jam di kamar. Aku lihat warna langitnya berganti. 

Mulai dari biru pudar dengan gerumbul gemawan putih mengambang, selang kemudian angin bertiup berganti arah, mendatangkan awan yang berarak dari selatan, tebal bergulung-gulung kelabu, siap menjatuhi bumi dengan rintikan hujan -dalam imajiku-.

Kau ingat, sunyi, aku begitu menyayangimu. Sekarangpun masih tak ada beda. 

Hanya saja kau sudah tiada sama seperti dulu. Aku tertawa, pada rintikan hujan yang berderai di teritis depan kamar. Airnya terpercik kemana-mana.

Hidupku demikian jenaka, sampai aku bahkan tak tahan untuk tidak menertawai plot ceritanya.

Eh, Sunyi, ini sudah terasa lama. Kau masih saja menunggui di lamunanku, berdiam dalam kenangan yang akan menenggelamkanku jika ku tuang kelewat banyak dalam kontemplasi saban hari.

Belum lagi kalau kau berkunjung dalam mimpi-mimpi sepanjang malam, memelukku erat. Ingat tidak, aku sering mengigau dan terbangun dengan air mata berlinangan, dengan dada sesak dan nafas tersengal.

Kenapa demikian?

Apa karena kau juga paham bahwa waktuku tak banyak?

Ah Sunyi, kau harus tahu, aku tak hanya sekedar menghabiskan hari menunggu mati.