Sibuk dan “Menyibukan Diri”

Kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai

“…Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan,“ tulis Kahlil Gibran dalam suratnya kepada May Ziadah bertanggal 1-3 Desember 1923 itu. “Dan menikmati kedamaian sekaligus melupakan penderitaan hidup…”
Tapi, andai Kahlil menulis itu di masa Chairil Anwar, mungkin suratnya jadi aneh, jadi labil.

Itu karena Februari 1943, Chairil menulis di selembar kertas: ”… Sedang aku mengembara serupa Ahasveros…“

Mungkin tak berlebihan jika dalam salah satu esainya Saut Situmorang menyatakan bahwa puisi “Tak Sepadan” itu adalah puisi lirik terbaik yang pernah ada di Indonesia. Mungkin saja. Apalagi, hampir dalam seluruh pusinya, Chairil terlihat sibuk (sendiri?) hingga kata-katanya padat dan ringkas. Begitu pula dengan puisi tersebut.

Maka dari itu kita juga curiga kalau Chairil bukanlah “pecinta yang benar”, yang transendental. Tapi hal itu, agaknya, terjadi sebelum sastrawan Angkatan ‘45 tersebut bersua Sumirat.

Ada banyak riwayat yang menulis bahwa Chairil bertemu Mirat di Pantai Cilincing, Jakarta. Kemudian juga di rumah pelukis Affandi. Tapi kiranya yang kedua lebih mendekati. Itu karena Mirat diketahui memang berguru pada sang maestro seni lukis Indonesia tersebut.

Singkat cerita, dari perkenalan yang tak biasa itu, keduanya saling jatuh hati. Tahun 1948, ketika Chairil datang untuk melamar Mirat, hidupnya yang sibuk itu tiba-tiba jadi lesu: ayah Mirat menolak bujukan sang calon menantu.

Kita bayangkan Chairil pulang dengan hati masygul dan bukan dengan lagaknya kala mengisap rokok yang sering jadi kolase itu. Lalu di salah satu koran di masa itu, ada sebuah puisi yang digadang-gadang kepunyaan Chairil. Puisi itu berjudul “Berpisah dengan Mirat”: suasana puisi itu, agaknya, memang suasana Chairil yang selalu saja merasa “…tambah terasing dari cinta sekolah rendah.”

Para penyair, kiranya, akrab dengan penderitaan – “juga kematian,” tambah Subagio Sastrowardoyo.

Itu pula yang terjadi kepada Chairil. Cintanya yang mulai tak lagi sibuk dan stabil itu harus remuk karena sebuah penolakan. Rindunya yang khusyuk itu kemudian jadi tenaga dalam puisi-puisinya yang lain – setelah 1948 yang “menyakitkan” itu. 

Ketika pemberontakan PKI 1948 di Madiun meletus, Mirat tak sempat menyelamatkan puisi-puisi yang ditulis Chairil untuknya. Jumlahnya mungkin satu atau dua koper.

Hingga tiba ini: 1949, Chairil pun mengembuskan napas terakhir. Tapi nasib kawan akrab pelukis Basoeki Resobowo itu memang merupa salah satu puisi terjemahannya untuk sajak John Cornford, “To Margot Heinemann”, yang dalam bahasa Indonesia menjadi “Huesca”:

“…dan jika untung malang menghamparkan 
aku dalam kuburan dangkal, 
ingatlah sebisamu segala yang baik
 dan cintaku yang kekal.”

Hanya saja, Kahlil menulis suratnya untuk May Ziadah pada tahun 1923, bukan 1943-1949. Tapi mungkin Kahlil juga merasakan bahwa kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai.

Memperingati wafatnya Si “Binatang Jalang” 

Jakarta, 270417

Cigarette

Let me be your cigarette, 
you can put me right between your teeth and smoke me when you’re stressed 
or when you simply miss the taste of my breath

Inhale me right in and make a home for me in your lungs rather than your rib cage,
 a heart is never enough for love nowadays — they say.

So darling won’t you light me up and never quit me, show me how far
 you’d go for me.

For all i seek is to be something that you’re addicted to.

With no promises made, no pretty lies and dying forevers.

Only a cigarette that’s enough to put you in the grave one day.

While knowing that, yet trusting that it won’t while knowing that, yet not caring if it will

How beautiful a love like that could be?

So baby let me be your cigarette, one you smoke day after day.

Inhale me all in till i eventually take all your breath away.

Sunyi -Kau Tunggu Aku- Mati

Suatu hari, aku berharap dapat menangkupmu dalam tulisanku, dalam kalimat-kalimat yang kutuangkan pada prosa.

Malam ini aku terduduk di tepi bingkai jendela, dalam sudut kesendirian yang kuhabiskan berjam-jam di kamar. Aku lihat warna langitnya berganti. 

Mulai dari biru pudar dengan gerumbul gemawan putih mengambang, selang kemudian angin bertiup berganti arah, mendatangkan awan yang berarak dari selatan, tebal bergulung-gulung kelabu, siap menjatuhi bumi dengan rintikan hujan -dalam imajiku-.

Kau ingat, sunyi, aku begitu menyayangimu. Sekarangpun masih tak ada beda. 

Hanya saja kau sudah tiada sama seperti dulu. Aku tertawa, pada rintikan hujan yang berderai di teritis depan kamar. Airnya terpercik kemana-mana.

Hidupku demikian jenaka, sampai aku bahkan tak tahan untuk tidak menertawai plot ceritanya.

Eh, Sunyi, ini sudah terasa lama. Kau masih saja menunggui di lamunanku, berdiam dalam kenangan yang akan menenggelamkanku jika ku tuang kelewat banyak dalam kontemplasi saban hari.

Belum lagi kalau kau berkunjung dalam mimpi-mimpi sepanjang malam, memelukku erat. Ingat tidak, aku sering mengigau dan terbangun dengan air mata berlinangan, dengan dada sesak dan nafas tersengal.

Kenapa demikian?

Apa karena kau juga paham bahwa waktuku tak banyak?

Ah Sunyi, kau harus tahu, aku tak hanya sekedar menghabiskan hari menunggu mati.

You ruin your life by desensitizing yourself. We are all afraid to say too much, to feel too deeply, to let people know what they mean to us. 

Caring is not synonymous with crazy. Expressing to someone how special they are to you will make you vulnerable. There is no denying that. 

However, that is nothing to be ashamed of. There is something breathtakingly beautiful in the moments of smaller magic that occur when you strip down and are honest with those who are important to you. 

Let that girl know that she inspires you. Tell your mother you love her in front of your friends. 

Express, express, express. Open yourself up, do not harden yourself to the world, and be bold in who, and how you love. 

There is courage in that.

Sosok Wanita Disebut Ibu

Ada cerita yang ku gantung di pelupuk sukma. Ini tentang kasih seorang ibu yang besarnya tiada hingga
. Tentang ia yang habiskan sisa hidupnya untuk tertawa; entah dusta atau nyata.

Demi aku, seorang insan yang terkadang lupa cara berterimakasih padanya. Ada ucap yang kusesal tiap detakan masa
. Acap kali ku berkata cela, hanya kerut di ujung bibirnya yang berkata: ia tetap percaya pada tiap kata yang kuutara
.

Ini tak pelak membuatku geram
, sepantas apa aku menerima tiap senandung sayapnya?

Getir; aku hanya bocah berbalut dosa
, namun aku ingin bunda berlama-lama mendampingiku
. Sebab, masih ada begitu banyak perkataan yang tak bisa ku ucap
. Sebab, masih ada sedikit sekali tingkahku yang bisa membanggakan.

Bunda, tak perlu khawatir pada senja yang acap kali tiba. 
Karena aku akan ada, di balik tingkah tengilku; mengenggam tanganmu.

Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang terbakar kemerahan; tapi aku tahu cara menghargaimu kini
. Bersamamu, hidup adalah panggung lakon teristimewa.