“She did not want to write; she did not want to talk…Words went on repeating themselves in her mind—words and sights.”~Virginia Woolf, The Years

Ba(wa)Per(asaan)

Baper merupakan kependekan dari “Bawa Perasaan” yang muncul dari seluk-beluk romantisme, namun siapa sangka peletakan Baper juga menjadi alegori dari neoliberalisme bin kapitalisme yang secara sosial mendapat tempat dalam perbendaharaan kata Indonesia. ‘Dia cuma punya itikad baik kepada semua teman kok, bukan sama kamu aja’, ‘Dia doain kamu cepat sembuh biar bisa bantu tugas kuliah aja kok’, atau ‘dia cuma mau senang-senang aja kok’. 

Intinya, dalam segala hal dalam kehidupan yang acak ini adalah; jadilah profesional. 

Seiring perkembangan zaman yang makin mematikan jarak ini, dan semakin berkembang pula permasalahan sosial. Manusia semakin dituntut untuk profesional dalam segala hal, baik dalam pekerjaan atau pun dalam kehidupan sosial yang paling berskala kecil, yakni pertemanan. 

Dalam berteman pun manusia dituntut untuk profesional. Tuntutan semacam ini yang seakan mendefinisikan sebuah kontradiksi dengan kemanusiaan dan pertemanan, atau mengenai pertemanan itu sendiri. Yang dituntut sejatinya “diam! Jadilah aliansi saya!”. Aliansi dan Pertemanan mempunyai jarak pengertian yang berbeda. 

Stephen M. Walt mengatakan, “the primary purpose of alliance is to combine the members’ capabilities in a way that furthers their respective interest.” Pertemanan model aliansi yang didesak oleh hakim-hakim sosial yang mendakwa “Baper” inilah yang, kata mereka, harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial era posmodern ini, yang sekadar berdasarkan kepentingan satu sama lain dan lebih-lebih memaksimalkan ‘power’ satu sama lain. 

Sangat berbeda dengan definisi Pertemanan secara esensi yang berdasarkan “hablumminannas”, memperbolehkan kebaperan hidup di antara manusia karena merupakan bagian terpenting dari kemanusiaan. 

Satu antitesis; Baper itu manusiawi, sebab manusia bukan robot dan itulah membedakan manusia dengan hewan. Akan tetapi, lahirnya istilah “Baper” tidak salah karena salah satu sikap reaktif masyarakat kebanyakan (pada era ini). Labelling biasanya terjadi untuk menjelaskan sebuah laku yang tak boleh ditiru. Atau menjelaskan sebuah anomali dalam hukum tak tertulis di pranata sosial setempat. Pemberian label (labelling) sejatinya memiliki segudang perintah implisit yang tentu saja menggambarkan sebuah anomali (penyimpangan). 

Kalau ada dikata “Atheis” artinya anda memiliki sikap afeksasi berlebihan terhadap sains dan logika manusia, terlalu cogito ergo sum, tidak perlu sholat/sembahyang lagi dan lupakan ketertarikan sains dalam Islam serta antropososionya. 

Kalau anda dilabeli “Mahasiswa Kiri” artinya “Hush! Diem aja! Itu dosen yang ngomong lho, ga boleh dibantah!”, kalau dikatai “Neo-Bigot Jokowi” artinya “lu kan milih om Bowo waktu itu. Sekali dukung ya dukung sampai mampus! Kalau perlu jilat pantatnya sampai bersih!”. Atau, ketika anda dikata “Lonte” artinya “jangan keluar malam! Mau gimaana pun, perempuan yang keluar malam itu perempuan ga bener!”.

Barangkali “Baper” ditujukan kepada manusia-manusia anomali yang tidak dapat berdiri di derasnya tuntutan profesionalitas. Tentu saja profesionalitas yang dimaksud adalah hasil maksimal yang didapat jika individu mampu memisahkan emosi dan segala hal yang dikerjakan. 

Begitu tetek-bengek kehidupan era neoliberalisme ini. Tunggu dulu, ternyata neoliberalisme bukan sekadar swastanisasi aset-aset oleh korporat–dan tidak hanya menciptakan kebutuhan seperti apa yang dikatakan Noam Choamsky.

 Neoliberalisme juga menuntut manusia untuk berkebutuhan akan profesionalitas dengan menjadi robot; matikan hatimu.

Barangkali, manusia yang beruntung pada masa ini adalah manusia yang tetap baper. Karena baper adalah simbol perlawanan kapitalisme yang menekan kehidupan setiap individu dan karena baper manusia tercerahkan betapa baiknya merasakan patah hati dan senyum sampai ke ekor mata dengan kolegamu. Lantas, jadilah individu baper yang ideologis dan profesional–serta jangan terlalu mengaminkan konstruksi sosial.

“Tuhan telah mati,” kata Nietzsche dan pernyataan filosofis itu benar. Sebab Tuhan telah mati pada hati orang kebanyakan dengan melarang manusia menggunakan emosional dan kebaikan.