Selain Harap dan Berharap

Jika ada yang menghidupi di muka bumi ini selain harapan, maka ia adalah sebuah janji yang merupakan taraf teratas setelah harapan. 

Ia memberikan warna kepada hidup dengan memberi rasa debar, juga membuat manusia mengira-ngira.

Sebuah janji, baik besar mau pun kecil, tampaknya ditakdirkan untuk hadir di kehidupan manusia karena sebuah Janji mengerti sekali apa yang diinginkan manusia.

Sebuah janji tidak memperdulikan jenis kelamin, warna kulit, ideologi, bahkan pengelompokan manusia menurut kebudayaan; Homo Ludens (kelompok manusia yang suka bermain) atau Homo Fabers (yang suka bekerja).

Janji mendefinisikan sesuatu yang bebas, terlepas dari genggaman. Begitu pula sifatnya. 

Sebuah Janji juga menerangkan dirinya sendiri sebagai sebuah ucapan prolog dongeng tentang masa depan yang menenangkan. 

Namun, tetap, sebuah janji akan menjadi serius ketika diucapkan baik tersurat atau pun tersirat.

Manusia dengan sikap reaktifnya menanggapi serius mengenai janji, mengenai sebuah pembuktian, mengenai sebuah rasa debar akan hasilnya, dan yang paling penting; mengenai sebuah penantian.

Sebuah Janji hanya sekadar kata-kata yang koheren sebelum ia terbesit di pikiran dan janji memerlukan objek atau tujuan, ketika sebuah Janji terucapkan, walau pun hanya iseng, ia bukan lagi sebuah Janji. 

Sifat alamiah janji pun tergerus ketika ia terucap (baik tersirat atau tersurat), setelahnya, ia lebih sering disebut Perjanjian.

Perjanjian, bukan lagi hal sederhana atau susunan kata-kata yang menenangkan karena perjanjian bukan dongeng khayalan untuk menghantarkan anak kecil ke alam mimpinya. 

Kita sering lupa atau mungkin hanya menganggap hal sepele mengapa sebuah hal semacam ini sering disebut Covenant, Agreement, atau, ya, A Contract.

Sebagian dari kita mengingat pepatah India kuno yang masih menjadi panutan dalam membuat perjanjian hari ini. Pacta sunt servanda, agreement must be kept, setiap perjanjian harus ditaati. 

Begitu seriusnya mengenai perjanjian, sampai-sampai termaktub dalam pasal 26 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan bahwa “every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed by them in good faith” atau “setiap perjanjian mengikat para pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik”.

Ada dua buah syarat mengenai penciptaan perjanjian, yakni itikad baik (good faith) dan keterikatan (bind). Segala sesuatu yang didorong oleh niat yang baik dan dijadikan alasan sebuah perjanjian memang berupa perjanjian–namun bukan perjanjian yang serius. Karena yang serius akan bersedia untuk terikat pada sebuah perjanjian.

Sebuah benang merah mengenai janji dan perjanjian sudah ada sejak sebuah perjanjian masih berupa embrio di dalam benak seseorang. Barangkali, kita sering lupa dengan nasihat nenek kita dulu “jangan sembarangan berjanji ya, jang.”.

Mengapa demikian? Apakah perjanjian adalah sebuah peraduan nasib di atas meja Poker? Bukan, bukan sama sekali.
Perjanjian adalah suatu ikatan yang sakral, sesuatu yang besar, yang par excellence, dan yang tidak sembarangan.

Sebab, perjanjianlah yang membuat manusia mengesampingkan sebagian dari hidupnya, atau barangakali sepenuhnya, untuk membuktikan hasil perjanjian itu.

Seturut Arfal yang mengatakan, janji pasti ditepati, namun tidak sekarang. 

Perkataan itu menjelaskan bahwa janji dan perjanjian akan diletakkan pada dikotomi hasil; berhasil atau gagal–bukan berjanji dan mengingkari.

Sebab, janji adalah janji dan sebuah perjanjian bukanlah tentang sebuah hak istimewa, namun sebuah pertanggungjawaban untuk dituntaskan

Di dunia ini akan selalu ada rahasia. 

Rahasia yang sengaja Tuhan tutupi agar kepala kita tak pecah.

Agar kita bisa tidur nyenyak.

Agar kita tahu bersyukur. 

Sayangnya rasa penasaran kita sering berlebihan. 

Padahal akhirnya kita hanya merasakan sakitnya satu-persatu rahasia tersibak.

Datanglah Kau

Meski bukan sebagai hujan. 

Jadi teman bercerita saja rasanya sudah cukup bagi letih menampung genang kenangan.

Kesalahan: Metodologi Sebuah Kehidupan

Kehidupan lahir karena kesalahan. Proses pengadaan bumi dan juga segala sistem alamiahnya juga difungsikan (pada akhirnya) untuk dan karena kesalahan itu sendiri.Tentu bukan kesalahan yang menjadi protagonis atau antagonist dalam perkara ini. Kita lahir ke dunia dan (terpaksa) menjalani segala—kesemuan yang mengecoh dengan kebahagiaan kekal—pun berakar dari kesalahan. 

Entah itu rencana Tuhan, atau memang Kesalahan itu sendiri yang berperan. Tidak ada kepastian atas perkara tersebut. Sebab, ada fleksibilitas tentu juga ada unfleksibilitas. Qada dan qadar. Ataupun, yang dinamakan ketetapan pada lauhul mahfudz (dalam bahasa sufi; A’yan Tsabita) yang disebut Plato sebagai alam ide.

Kita juga tidak bisa memikirkan apa saja bagian dari ide Tuhan. Di luar dari kebesaran-Nya, kita menerima. Sebab, jika sesuatu itu tadi mampu kita tembus misterinya, tentu Tuhan tadi bukanlah Tuhan. Dikarenakan, lingkupnya telah mampu didefenisikan. Tuhan tetaplah Tuhan, Tuhan besar dengan Dzat-Nya sendiri. Tuhan melampaui peradaban ruang, waktu, dan akal manusia itu sendiri.

Barangkali Tuhan menyajikan kesalahan sebagai metodologi sebuah kehidupan. Saya ingat pada sebuah ayat di dalam Al-quran yang menerangkan bahwa Malaikat mempertanyakan kehendak Allah ketika akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena, menurut Malaikat (di dalam ayat tersebut) manusia hanya akan merusak dan memberikan pertumpahan darah (yasfiquddima) di muka bumi. 

Dulu, karib pernah menemukan sebuah buku di pondok pesantrennya yang berjudul “Adam dan Hawa bukan manusia pertama.” Beliau mengaminkan hal tersebut dengan alasan bahwa Adam diutus sebagai khalifah. Menurutnya, khalifah jika dirujuk dari pemahaman nahwu sharaf, khalifah berarti adalah pengganti. Tentu jika ada pengganti, ada yang digantikan. Tetapi diskusi kami mandek, buntu, dan pulang ke rumah masing-masing dengan rambut yang keriting oleh karena tidak menemukan “jadi, siapa manusia pertama itu?” 

Jika yang dikata adalah Adam dan Hawa bukan Makhluk Pertama di bumi, barangkali dulu saya sudah bisa menjawabnya dengan adanya sebuah riwayat yang menceritakan tentang pengusikan bumi dengan dua kubu makhluk (Abal Jan dan Banul Jan) di dalamnya jauh sebelum diciptakannya Adam. Bahkan ada riwayat lain yang mengatakan makhluk yang diturunkannya jauh sebelum Nabi Adam diciptakan adalah Nasnas. Tetapi di luar itu semua, mereka hanyalah makhluk yang tidak diberikan akal dan pantas saja bumi hancur karena aktifitas yang dilakukan melulu perang. Adam dan Hawa memang ‘bukan’ makhluk pertama di muka bumi.

Di dunia sekarang ini hanya ada dua kelompok penting di dalam kehidupan. Kelompok ilmuan dan kelompok agamis. Meski di bawah mereka ada lagi kelompok-kelompok kecil yang muncul, namun tetap mewakili ideologi antara dua kelompok utama (ilmuan dan agamis) tadi. 

Bagi penganut paham dogma agama, barang tentu kehidupan di dunia ini berawal dari kesalahan Adam yang menuruti keinginan Hawa untuk memakan buah terlarang (khuldi) di surga. Dan juga kisah dua makhluk (abal jan dan banul jan) yang diturunkan ke bumi sebelum Adam. Kerusakan yang tercipta pada akhirnya menjadi ide dari diciptakannya Adam. Sosok makhluk yang diciptakan diberi akal sebagai pembeda dan disebut manusia.

Meski menurut saya, ada atau tidak adapun kejadian tersebut, kesalahan adalah bentuk sebenarnya keunggulan manusia. Malaikat diciptakan dengan tidak diberikan kepada mereka nafsu—yang barang tentu—mereka akan menjauh dari segala kefasikan. Malaikat hanya diberi perintah dan melakukannya. Sementara manusia, diberi perintah tidak secara spesifik, akan tetapi diberi pemahaman. Sebab itulah, Tuhan menitipkan bumi kepada manusia. 

Kesalahan memang akar dasar dari sebuah kebenaran. Kita ingat kejadian pembunuhan antara Habil dan Qabil, atau teori bumi yang awalnya berbentuk piringan hingga ditasbihkan bahwa bumi itu bulat. Atau, teori ruang dan waktu ala Newton yang akhirnya diperbarui Einstein dengan teori relativitas umum (meski penafsiran ini masih menjadi paradoks). Akan tetapi, tetaplah kebenaran lahir dari sebuah kesalahan.