Sudahkah Terasa Sakit?

Berpura-pura tegar seolah batu karang yang tidak bergeming diterpa hempasan ombak kencang.

Bak bulan yang tak terganggu oleh kelam dan sepinya langit malam saat bintang tertutup awan hitam sebagai pertanda sang hujan akan datang.

Sudahkah terasa lelah?

Saat sekuatnya engkau menarik sudut bibirmu untuk tetap tersenyum, tetap pada pilihan hatimu mencintai dia yang mungkin masih ada hati lain yang dijaganya. Sebuah perjalanan lama sebelum tentang kalian, sebuah kisah yang pasti menyisa dalam. 

Sudahkah terasa langkahmu berhenti?

Sejenak bertanya, bukan untuk meragu, hanya bertanya pada diri sendiri, sudah tahu tidak ada yang sia-sia di dunia ini, pun perasaanmu pada dia, lelaki yang membuatmu begitu bahagia hari-hari ini. Hanya saat persimpangan memori dan saat ini bertemu, di situlah kadang langkahmu harus sedikit berhenti, menyelamatkanmu dari godaan kesedihan dan hujaman rasa sakit.

~YMB

Tuhan, aku bosan.

Kalau waktu ku akan habis, berilah isyarat padaku.

Setidaknya agar aku sempat mengucapkan perpisahan pada orang-orang terdekatku.

Kalau waktu ku masih lama, percepatlah.

Tapi beri kesempatan untuk aku agar bisa melunturkan dosa yang melekat.

Karena aku mulai bosan.

Beruntunglah kau pohon angsana. Bukan manusia, juga takkan pernah menjadi manusia.

Cukup Semesta

Ini, ada nada-nada yang tidak cukup terdengar oleh sekedar telinga.

Bunyinya nyaring, semurni dentuman atom. 
Liriknya indah senyata gempa pada mayapada. Serta golak-golek malaikat di suralaya menambah gempita nuansa roman yang aku pendam.

Coba lagi, sekali lagi dengarkan baik-baik. Tidak terdengarkah olehmu lantunan nan merdu itu?

Kisah memang semacam nostalgia. Kadang bahkan hanya serupa dongeng pengantar lelap. 
Tapi tahukah kamu?

Bintang kejora mengerlip seakan meyakinkan batin. Bahwa pada akhirnya kisah itu masih akan berlanjut. Kisah yang menjadi asal muasal bunyi-bunyian ini.

Karena pada dasarnya, sejarah akan mencatat, bahwa dunia terlalu sempit untuk menampung cerita kita.

Lalu tidak perlu semua orang tahu. Tidak perlu pula ditulis dalam banyak buku. Cukup semesta yang mengerti. Cukup semesta yang memahami.

Coba kau dengar sekali lagi. Dari dalam kamar, di dalam selimut, di balik kausku, di balik kulit tubuhku, di antara tulang-tulang dan darahku, di sanalah kau akan menemukan nada-nada itu.

Jangan tanya di mana persisnya. Karena aku tidak tahu pasti hatiku berada di sebelah mana.