Embun

  
Selamat pagi, Embun. Melihatmu menetes ke tanah atau diuapkan terik tidak akan tidak pernah menyakiti aku dengan sangat. Tapi jika itu yang terindah menurutmu. Aku akan berpura-pura semua baik-baik saja.

Dalam silau terik menggali mata untuk tetap mampu memaknai keindahan untuk dijadikan senyuman. Meski terasa diremehkan dan bisa jadi dianggap yang tidak-tidak sendirian memanaskan diri.

Malam ini, aku tidak bicara pada kenangan pada gemerisik yang menggema dari bayang dirimu atau sebuah lagu yang dulu sering kita nyanyikan bersama. Sebab kenangan, bukan jalan pulang untuk kembali, bukan isyarat kesunyian yang bisa kita bagi lagi.