Malam

Ada hari di mana sepi merayakan kematiannya

hingar-bingar lahir dari gelegar bising

kendaraan-kendaraan bermesin

asap mengepul lebat

seperti awan memunggut air sabar

akan penantiannya mengolah deras

meski tubuhnya getas.

Aku rayakan malam ini dengan ritual

ritus mengurus diri.

Bayang tubuhku

kekasih paling setia

kuhabiskan sepanjang malam

bersetubuh dengan detak jarum jam

dengan aroma tanah dirajam hujan.

Sesungguhnya kesendirian

punya semarak, sayang ia pemalu

tak mau mengaku ramai

gugurlah dalam damai.

Makam-makam menganga

peziarahan abadi

tentang hening

tetapi anehnya ia masih

berderu kencang di telingaku

seolah tak mau pergi

hanya mati suri

sendiri hinggap lagi

kembali temani tubuhku

menanti cinta yang pergi.

Lagi-lagi Kota mu

Hari ini,
 kotaku mendung.

Musim hujan, kata mereka
Lalu tiba-tiba, 
aku mengingatmu, Bandung

Jalanan lengang, tak seperti kota di mana ku tinggal.

Orang-orang saling sapa menyenangkan. 

Cuaca ramah syahdu, dan nada suara melagu merdu kenangan tentang merindu -kurasa semuanya sedang bertamu di ingatanku.

Entah akan kuganti dengan apa,
merindumu tidak akan sama dengan merindu kota lainnya.

Karena aku pernah jatuh cinta, berkali-kali jatuh cinta kepadanya

Ah, kurasa benar adanya, Tuhan pasti sedang tersenyum saat mencipta kau dengan semua keagunganNya.