Bilur Kenang

Di kepalaku, lahir kebun-kebun bunga

aroma bermacam kelopak semerbak

yang wangi menyedak ingatan

tentang masa kanak-kanak.

“nak, bermainlah keluar” kata Ayah padaku

sebab ia tak mau anaknya hanya menonton

keruh di raut bocah kecilnya yang monoton.

“maka coba gerakkan sedikit kaki-kakimu”

Ujar Ayah coba ajarkan langkah

walau dengan kepala pening.

Bagi Ayah, mencoba adalah hal penting 

dengan gigil kecil di tubuh mungilku

kugapai sepuntung-dua panting

meski akhirnya tubuh terpelanting.

Masa kecil adalah segelintir

memori yang kini jadi memoar

kian tumbuh pesat seolah akar.

Di kebun kepala kecil yang menua

pernah sekali-dua kali terserang hama

beberapa ranum bunga hilang rupa

dilalap lupa.

Aku dan langkah-langkah kecil

menata setapak kerdil

sebab ingatan cepat menguap

seperti air di tanah kemarau

sebelum adanya lenyap

kusimpan bulir-bulirnya

dalam toples waktu

dari ingatan-ingatan lalu

setetes-dua tetes masuk bibir

kucicip dan tak pernah ada habis.

Hujan mengalir deras

dari mataku yang hilir

tertuju dadaku yang getir

sebuah belantara masa

tempat segala kenang

tersesat dan hilang

kini ia tergenang.

Bangku Taman

Jurang. Aku seperti menggantung pada tiap akar yang menjuntai di pinggir-pinggirnya. Ingin menyusulmu yang sudah lebih dulu aku tenggelamkan di jembarnya relung-relung hati. Aku mati pada kaki pilihan sendiri. Busuk seperti gila menyesali yang sudah terjadi.

Lanang, bangku taman tempat kita berpegang tangan ketika itu, catnya sudah mengelupas. Ia tak kuasa dihantam panas dan hujan yang bergantian.

Mungkin tak beda jauh dengan yang terjadi padaku, padamu. Bukan kita yang lemah, tapi hujan dan panas yang terlalu ganas. Bukan payung kita yang tak tangguh, tapi anginnya yang terlalu besar menggelebar. Maaf, aku sudah berbohong.

Kita adalah dua orang lemah dan aku tak kuat menahanmu juga tak terlalu kuat menahan bebanku. Sesederhana itukah?.

Aku kini duduk di atasnya. Membayangkan jurang, kamu, dan besi yang aku duduki. Di depanku ada burung kecil yang paruhnya naik turun mematuk tanah.

Dia berwarna coklat, ada salur hitam di bagian sayapnya. Tak begitu cantik. Tapi biarlah, dia tak butuh itu agar dapat makan.

Dia melihat ke arahku, lalu terbang. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap tinggal.

Berlama-lama di sini, aku merasa banyak disindir. Oleh cat pada bangku taman, oleh burung yang ringan meninggalkan. Mereka berisyarat. Aku sekarat.

Tapi, aku tak bisa pergi. Udara sesak tapi tetap ku harus di sini. Aku harus menikmati hembusan angin yang kadang menerbangkan angan ke impian bersamamu. Basah rumput dan wangi tanah yang selalu memberikanku pilihan, aroma harum atau kesejukan.

Bagaimanapun hasil dari keputusan, pilihan, adalah hal yang harus diambil agar roda tetap berjalan. Karenanya, ketika Dia begitu, aku hanya bisa memilih setuju, meski di dadaku ada guruh yang tak bisa disela; kecewa.

Aku akhirnya juga meninggalkan, bangku taman dengan banyak kenangan. Sisa aromanya, aku sesap pelan-pelan dan ku simpan sepanjang hayat.

Akankah 30 atau 40 tahun lagi tubuh rentaku akan terduduk di sini lagi? bersamamu mungkin. Itu harapan, harapan yang sampai saat ini aku jaga.