Bibit Bunga

Sudah diputuskannya untuk menyimpan saja rapat-rapat bibit bunga itu. Di sebuah ruang yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tempat yang paling ku suka jika ia ingin menyatu dengan dirinya. Sesekali ia menjenguknya. Berlama-lama memandanginya. Termangu di depannya. Bibit bunga itu masih tergeletak begitu saja. Belum tahu akan ia apakan. Akan ia rawatkah hingga berbunga cantik, atau ia biarkan saja hingga bibit itu sendiri memilih untuk menumbuhkan dirinya, atau tetap seperti itu apa adanya.

Biasanya, ia tak pernah ragu untuk menyirami dan memberi pupuk bibit bunga hingga warna-warninya menyapa matahari, memberi ucapan selamat malam pada bulan. Tapi kali ini berbeda. Kemarin ia mengirim sebuag pesan pada Tuhan. Ingin tahu pendapat Tuhan tentang bibit bunga miliknya kali ini. Tuhan mengabarinya bahwa bunga ini berduri tajam. Tidak biasa. Jika salah memberi pupuk, durinyalah yang akan bermekaran. Menggores dinding-dinding ruang tempatnya bertumbuh.

Ia masih termangu di depan bibit bunga itu. Sesekali bangkit dan berjalan mondar-mandir. Termangu kembali di depannya. Meraup bibit itu dan menjatuhkannya perlahan. Meraup lagi dan kembali menjatuhkannya. Sejenak ia menikmati kegiatan itu. Bibit-bibit itu seperti berlomba mencapai tanah, lalu menjatuhkan dirinya bulat-bulat. Berulang-ulang dilakukannya sambil sesekali tersenyum. Lama-lama, tangannya bergerak sendiri meraup dan menjatuhkan bibit itu sementara pikirannya melayang. Memikirkan kembali apa yang harus ia lakukan. Ia tak bisa bertanya pada orang-orang yang lalu lalang di luar dinding ruang itu sebab ia sudah memutuskan.

Perlahan, malam mengepakkan sayapnya. Ia sadar harus segera keluar dari ruang ini. Ia tetap belum memutuskan apapun.

Ia beranjak. Mengunci pintu ruang itu. Esok ia akan kembali bermain-main dengan bibit bunga itu. Meraupnya, lalu menikmati bibit bunga itu berlomba menjatuhkan dirinya.

Itu cukup baginya, untuk saat ini.