Refleksi Waktu

Pikiranku baru saja berkelana ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana air mata lebih sering turun daripada hujan. 

Ke tempat di mana jarak antara langit dan bumi lebih dekat dari dua pasang sorot mata yang tak bisa bertemu. 

Ke tempat di mana ketakutan-ketakutan itu ada, dan khawatir bisa saja tiba-tiba lahir. Ke tempat di mana skenario kita jadi begitu rahasia dan tak terprediksi. 

Ke tempat di mana kata pisah menjadi batas yang sangat menyakitkan. Ke tempat di mana kamu mungkin saja tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir. 

Tiba-tiba saja, aku ingin tahu. Tiba-tiba saja aku penasaran. Tiba-tiba saja aku ingin mencicil rasa lebih dini. 

Hingga aku mengerti bahwa aku salah. Sekejap aku memejam, aku tahu waktu tidak pernah bisa diam. Waktu terus berjalan, pilihan-pilihan terus bergantungan dan kamu tak bisa menghindar dari hari esok. 

Namun, bukankah kita bisa menggelar tikar, lalu piknik di atas tanah yang sempit? Karena langit kemana kita menadah akan tetap sama, luas. 

Lalu, kenapa kita lebih banyak menguatirkan tentang perpisahan dan lupa menghargai sebuah pertemuan? 

Kenapa kita lebih banyak menguatirkan hari terakhir dan lupa menikmati hari-hari yang sedang hadir? 

Kenapa kita lebih banyak menyesali yang terjadi dan tak mencoba memperbaiki yang ada? Karena pada akhirnya bukan perpisahan yang seharusnya kita kuatirkan, tapi mengabaikan skenario yang sudah Tuhan rancangkan. 

Buat apa kamu takut dengan waktu yg terbatas, kalau kamu bisa jatuh hati di setiap hembusan nafas? 

Kekhawatiran hari ini cukup jadi porsi hari ini, karena esok ada bagiannya sendiri. 

Tenanglah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. 
Karena kamu tidak perlu menguatirkan apa yang sudah dikendalikan Tuhan

Renungan Malam Takbir

Saudara-saudaraku, kawan-kawanku belalah agamamu dengan mengasihi ke semua mahluk tanpa pilih kasih, berzakat, menolong siapapun yg membutuhkan pertolongan, tidak mudah menghakimi, balaslah orang- orang yang menyakitimu dengan doa agar mereka dibukakan hidayah tentang kasihNya, maafkan juga yg memusuhimu. 

Karena ingatlah bahwa orang-orang yg mudah  menyakiti dan membenci mahluk lain sesungguhnya sangat amat tidak bahagia, ketidakbahagiaan inilah yg hanya bisa mereka bagi ke mahluk lain. Kasihan mereka. 

Ingat saudara-saudaraku hakekat tertinggi Tuhan ada pada Ar Rahman Ar Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap kita selalu diajari untuk mengucap Bismillah dalam segala hal, resapi itu dan manifestasikan dalam perbuatanmu ke semua mahluk. 

Ingat, jika mau dalam sekejap Tuhan bisa menciptakan segalanya seragam, tetapi mengapa tidak? Jadilah cerdas, Tuhan sedang ingin menunjukkan kasih sayangNya yg Maha Besar.  

Seperti naik ke puncak gunung, kita bisa naik dari sisi manapun bahkan sewa Uber helikopter sekalipun. Bayangkan di atas dari sisi maanapun kalian naik maka di atas kalian sama-sama melihat pemandangan yg sama, langit yg sama.

Jadi, selalu melihat setiap mahluk sebagai satu jiwa yg sama, jangan sekali-kali melihat mereka dari agama, warna kulit atau label yg lain, selalu pancarkan kasih sayang ke mereka. 

Jika kamu ingin mengkritik seseorang kritiklah dengan dasar Cinta bukan dengan dasar rasa benci. Ingat! jika kalian membenci maka sesungguhnya kalian sedang menista Tuhan, bagaimana mungkin tempatnya yg paling suci kalian isi dengan rasa benci? 

Hati, ya hati itulah tempat tertinggi Tuhan.

Penakut

Kamu tak ingin mencintaiku(?)

Karena kamu tahu, yang terbaik dariku akan selalu untuk bahagiamu. 
Dan, kamu tak cukup berani untuk menghadapi keberanian semacam itu.

Karena kamu tahu, aku tak mempermainkan cinta seperti yang mereka bisa. 
Dan, kamu tak cukup berani untuk menyaksikan cinta yang benar dan luar biasa.

Karena kamu tahu, bagian diri yang paling kamu benci mampu ku dekap dan ku cintai.
 Dan, kamu tak cukup berani untuk menyaksikan bagian diri yang paling kamu benci tengah didekap dan dicintai.

Karena kamu tahu, kamu tak akan menemukan aku di dalam diri siapapun.
Dan, kamu tak cukup berani bila kelak kamu tak dapat menemukan siapapun.

Karena kamu tahu, kamu pasti akan mencintaiku.
 Dan, kamu tak cukup berani untuk menerima hatimu sendiri.

Sibuk dan “Menyibukan Diri”

Kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai

“…Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan,“ tulis Kahlil Gibran dalam suratnya kepada May Ziadah bertanggal 1-3 Desember 1923 itu. “Dan menikmati kedamaian sekaligus melupakan penderitaan hidup…”
Tapi, andai Kahlil menulis itu di masa Chairil Anwar, mungkin suratnya jadi aneh, jadi labil.

Itu karena Februari 1943, Chairil menulis di selembar kertas: ”… Sedang aku mengembara serupa Ahasveros…“

Mungkin tak berlebihan jika dalam salah satu esainya Saut Situmorang menyatakan bahwa puisi “Tak Sepadan” itu adalah puisi lirik terbaik yang pernah ada di Indonesia. Mungkin saja. Apalagi, hampir dalam seluruh pusinya, Chairil terlihat sibuk (sendiri?) hingga kata-katanya padat dan ringkas. Begitu pula dengan puisi tersebut.

Maka dari itu kita juga curiga kalau Chairil bukanlah “pecinta yang benar”, yang transendental. Tapi hal itu, agaknya, terjadi sebelum sastrawan Angkatan ‘45 tersebut bersua Sumirat.

Ada banyak riwayat yang menulis bahwa Chairil bertemu Mirat di Pantai Cilincing, Jakarta. Kemudian juga di rumah pelukis Affandi. Tapi kiranya yang kedua lebih mendekati. Itu karena Mirat diketahui memang berguru pada sang maestro seni lukis Indonesia tersebut.

Singkat cerita, dari perkenalan yang tak biasa itu, keduanya saling jatuh hati. Tahun 1948, ketika Chairil datang untuk melamar Mirat, hidupnya yang sibuk itu tiba-tiba jadi lesu: ayah Mirat menolak bujukan sang calon menantu.

Kita bayangkan Chairil pulang dengan hati masygul dan bukan dengan lagaknya kala mengisap rokok yang sering jadi kolase itu. Lalu di salah satu koran di masa itu, ada sebuah puisi yang digadang-gadang kepunyaan Chairil. Puisi itu berjudul “Berpisah dengan Mirat”: suasana puisi itu, agaknya, memang suasana Chairil yang selalu saja merasa “…tambah terasing dari cinta sekolah rendah.”

Para penyair, kiranya, akrab dengan penderitaan – “juga kematian,” tambah Subagio Sastrowardoyo.

Itu pula yang terjadi kepada Chairil. Cintanya yang mulai tak lagi sibuk dan stabil itu harus remuk karena sebuah penolakan. Rindunya yang khusyuk itu kemudian jadi tenaga dalam puisi-puisinya yang lain – setelah 1948 yang “menyakitkan” itu. 

Ketika pemberontakan PKI 1948 di Madiun meletus, Mirat tak sempat menyelamatkan puisi-puisi yang ditulis Chairil untuknya. Jumlahnya mungkin satu atau dua koper.

Hingga tiba ini: 1949, Chairil pun mengembuskan napas terakhir. Tapi nasib kawan akrab pelukis Basoeki Resobowo itu memang merupa salah satu puisi terjemahannya untuk sajak John Cornford, “To Margot Heinemann”, yang dalam bahasa Indonesia menjadi “Huesca”:

“…dan jika untung malang menghamparkan 
aku dalam kuburan dangkal, 
ingatlah sebisamu segala yang baik
 dan cintaku yang kekal.”

Hanya saja, Kahlil menulis suratnya untuk May Ziadah pada tahun 1923, bukan 1943-1949. Tapi mungkin Kahlil juga merasakan bahwa kesibukan yang paling dalam bagi seorang penyair barangkali adalah upaya untuk mengutuk perasaan-perasaan mereka yang terbengkalai; menyumpahi kisah percintaannya yang tak sampai.

Memperingati wafatnya Si “Binatang Jalang” 

Jakarta, 270417