Kesalahan: Metodologi Sebuah Kehidupan

img_0262

Kehidupan lahir karena kesalahan. Proses pengadaan bumi dan juga segala sistem alamiahnya juga difungsikan (pada akhirnya) untuk dan karena kesalahan itu sendiri.Tentu bukan kesalahan yang menjadi protagonis atau antagonist dalam perkara ini. Kita lahir ke dunia dan (terpaksa) menjalani segala—kesemuan yang mengecoh dengan kebahagiaan kekal—pun berakar dari kesalahan. 

Entah itu rencana Tuhan, atau memang Kesalahan itu sendiri yang berperan. Tidak ada kepastian atas perkara tersebut. Sebab, ada fleksibilitas tentu juga ada unfleksibilitas. Qada dan qadar. Ataupun, yang dinamakan ketetapan pada lauhul mahfudz (dalam bahasa sufi; A’yan Tsabita) yang disebut Plato sebagai alam ide.

Kita juga tidak bisa memikirkan apa saja bagian dari ide Tuhan. Di luar dari kebesaran-Nya, kita menerima. Sebab, jika sesuatu itu tadi mampu kita tembus misterinya, tentu Tuhan tadi bukanlah Tuhan. Dikarenakan, lingkupnya telah mampu didefenisikan. Tuhan tetaplah Tuhan, Tuhan besar dengan Dzat-Nya sendiri. Tuhan melampaui peradaban ruang, waktu, dan akal manusia itu sendiri.

Barangkali Tuhan menyajikan kesalahan sebagai metodologi sebuah kehidupan. Saya ingat pada sebuah ayat di dalam Al-quran yang menerangkan bahwa Malaikat mempertanyakan kehendak Allah ketika akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena, menurut Malaikat (di dalam ayat tersebut) manusia hanya akan merusak dan memberikan pertumpahan darah (yasfiquddima) di muka bumi. 

Dulu, karib pernah menemukan sebuah buku di pondok pesantrennya yang berjudul “Adam dan Hawa bukan manusia pertama.” Beliau mengaminkan hal tersebut dengan alasan bahwa Adam diutus sebagai khalifah. Menurutnya, khalifah jika dirujuk dari pemahaman nahwu sharaf, khalifah berarti adalah pengganti. Tentu jika ada pengganti, ada yang digantikan. Tetapi diskusi kami mandek, buntu, dan pulang ke rumah masing-masing dengan rambut yang keriting oleh karena tidak menemukan “jadi, siapa manusia pertama itu?” 

Jika yang dikata adalah Adam dan Hawa bukan Makhluk Pertama di bumi, barangkali dulu saya sudah bisa menjawabnya dengan adanya sebuah riwayat yang menceritakan tentang pengusikan bumi dengan dua kubu makhluk (Abal Jan dan Banul Jan) di dalamnya jauh sebelum diciptakannya Adam. Bahkan ada riwayat lain yang mengatakan makhluk yang diturunkannya jauh sebelum Nabi Adam diciptakan adalah Nasnas. Tetapi di luar itu semua, mereka hanyalah makhluk yang tidak diberikan akal dan pantas saja bumi hancur karena aktifitas yang dilakukan melulu perang. Adam dan Hawa memang ‘bukan’ makhluk pertama di muka bumi.

Di dunia sekarang ini hanya ada dua kelompok penting di dalam kehidupan. Kelompok ilmuan dan kelompok agamis. Meski di bawah mereka ada lagi kelompok-kelompok kecil yang muncul, namun tetap mewakili ideologi antara dua kelompok utama (ilmuan dan agamis) tadi. 

Bagi penganut paham dogma agama, barang tentu kehidupan di dunia ini berawal dari kesalahan Adam yang menuruti keinginan Hawa untuk memakan buah terlarang (khuldi) di surga. Dan juga kisah dua makhluk (abal jan dan banul jan) yang diturunkan ke bumi sebelum Adam. Kerusakan yang tercipta pada akhirnya menjadi ide dari diciptakannya Adam. Sosok makhluk yang diciptakan diberi akal sebagai pembeda dan disebut manusia.

Meski menurut saya, ada atau tidak adapun kejadian tersebut, kesalahan adalah bentuk sebenarnya keunggulan manusia. Malaikat diciptakan dengan tidak diberikan kepada mereka nafsu—yang barang tentu—mereka akan menjauh dari segala kefasikan. Malaikat hanya diberi perintah dan melakukannya. Sementara manusia, diberi perintah tidak secara spesifik, akan tetapi diberi pemahaman. Sebab itulah, Tuhan menitipkan bumi kepada manusia. 

Kesalahan memang akar dasar dari sebuah kebenaran. Kita ingat kejadian pembunuhan antara Habil dan Qabil, atau teori bumi yang awalnya berbentuk piringan hingga ditasbihkan bahwa bumi itu bulat. Atau, teori ruang dan waktu ala Newton yang akhirnya diperbarui Einstein dengan teori relativitas umum (meski penafsiran ini masih menjadi paradoks). Akan tetapi, tetaplah kebenaran lahir dari sebuah kesalahan. 

Sudahkah Terasa Sakit?

Berpura-pura tegar seolah batu karang yang tidak bergeming diterpa hempasan ombak kencang.

Bak bulan yang tak terganggu oleh kelam dan sepinya langit malam saat bintang tertutup awan hitam sebagai pertanda sang hujan akan datang.

Sudahkah terasa lelah?

Saat sekuatnya engkau menarik sudut bibirmu untuk tetap tersenyum, tetap pada pilihan hatimu mencintai dia yang mungkin masih ada hati lain yang dijaganya. Sebuah perjalanan lama sebelum tentang kalian, sebuah kisah yang pasti menyisa dalam. 

Sudahkah terasa langkahmu berhenti?

Sejenak bertanya, bukan untuk meragu, hanya bertanya pada diri sendiri, sudah tahu tidak ada yang sia-sia di dunia ini, pun perasaanmu pada dia, lelaki yang membuatmu begitu bahagia hari-hari ini. Hanya saat persimpangan memori dan saat ini bertemu, di situlah kadang langkahmu harus sedikit berhenti, menyelamatkanmu dari godaan kesedihan dan hujaman rasa sakit.

~YMB

Tuhan, aku bosan.

Kalau waktu ku akan habis, berilah isyarat padaku.

Setidaknya agar aku sempat mengucapkan perpisahan pada orang-orang terdekatku.

Kalau waktu ku masih lama, percepatlah.

Tapi beri kesempatan untuk aku agar bisa melunturkan dosa yang melekat.

Karena aku mulai bosan.

Beruntunglah kau pohon angsana. Bukan manusia, juga takkan pernah menjadi manusia.

Cukup Semesta

Ini, ada nada-nada yang tidak cukup terdengar oleh sekedar telinga.

Bunyinya nyaring, semurni dentuman atom. 
Liriknya indah senyata gempa pada mayapada. Serta golak-golek malaikat di suralaya menambah gempita nuansa roman yang aku pendam.

Coba lagi, sekali lagi dengarkan baik-baik. Tidak terdengarkah olehmu lantunan nan merdu itu?

Kisah memang semacam nostalgia. Kadang bahkan hanya serupa dongeng pengantar lelap. 
Tapi tahukah kamu?

Bintang kejora mengerlip seakan meyakinkan batin. Bahwa pada akhirnya kisah itu masih akan berlanjut. Kisah yang menjadi asal muasal bunyi-bunyian ini.

Karena pada dasarnya, sejarah akan mencatat, bahwa dunia terlalu sempit untuk menampung cerita kita.

Lalu tidak perlu semua orang tahu. Tidak perlu pula ditulis dalam banyak buku. Cukup semesta yang mengerti. Cukup semesta yang memahami.

Coba kau dengar sekali lagi. Dari dalam kamar, di dalam selimut, di balik kausku, di balik kulit tubuhku, di antara tulang-tulang dan darahku, di sanalah kau akan menemukan nada-nada itu.

Jangan tanya di mana persisnya. Karena aku tidak tahu pasti hatiku berada di sebelah mana.

Puisinya adalah Pembunuh

Tercipta dari getir, ia merangkai perih yang ia punguti dari sisa-sisa tragedi.

Matanya yang sembab, berhalusinasi tentang janji yang ia cungkil sendiri dari hati yang terlanjur mempercayai.

Bergetar tangannya, menodai kertas yang meregang nyawa. 

Tersusun kata yang menangisi elegi tentang masa yang pernah dilewati.
Ia sendiri. 

Ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. 

Pintalan akar yang mengikat nadi telah menjadi saksi, bahwa puisi adalah pembunuh paling sadis untuk dirinya sendiri.