Aku Pembohong

Betapa sebuah kebenaran akan menjadi terlalu sulit untuk diubah menjadi sebuah kebohongan. Begitupun sebaliknya.

Pada ia, yang selalu tahu apapun yang menjadi kebiasaan

Aku memang berbohong
Saat kukatakan aku akan baik-baik saja
Mana mungkin
Bila terlalu cinta, perpisahan seperti menjadi kejadian paling menakutkan sekaligus menyedihkan di dunia, kan?

Aku memang berbohong
Saat kukatakan tak akan lagi tentangmu dalam tulisan-tulisanku
Ah, kau pasti tahu
Suka atau duka
Tentangmu dalam tulisanku sudah seperti bahan bakar yang mampu memberi tenaga.

Aku memang berbohong
Saat kukatakan bisa saja aku menuliskan seseorang yang sedang sibuk kurindukan
Tentu, aku mengaku itu bukan kamu
Ah, rasanya sesak berkata yang tak benar
Namun mau bagaimana lagi
Kau tak boleh tahu
Hatiku masih sekurangajar ini merindukanmu.

Aku memang berbohong
Saat katakan tanpamu saat ini, aku pasti mampu bahagia
Mungkin saja aku bisa
Namun siapa sangka
Melupakanmu sama seperti melupakan rasa makanan terenak di dunia
Terlalu sulit, karena hatiku selalu berkelit

Aku memang berbohong
Saat kukatakan, padamu sudah tidak ada rasa
Ah, rasa itu tentu saja masih ada
Ia sedang kutahan-tahan
Kupenjara, supaya tidak seenaknya saja keluar.

[repost] Hujan, Pesan

Seketika tersenyum memandang rinai hujan di balik jendela kaca. Memikirkan sesuatu tentang hujan dan pesan-pesan perasaan.
Hujan, tentu saja mereka adalah pasukan pembawa pesan yang disampaikan langit kepada hamparan tanah.

Itulah cara langit menyentuh tanah yang hanya bisa dipandanginya dari atas. Sosok yang ia ingin lindungi setiap saat.

Pesan itu akan sampai meresap dan kemudian cepat atau lambat akan kembali disambut sang langit, dengan pesan baru berisi curahan hati hamparan tanah yang hanya memandang ke atas. Memuji pesona langit.

Seketika aku tersenyum memikirkan sesuatu. Aku percaya selalu ada cara untuk menyampaikan pesan hati, sekalipun jarak membentang tak terperi.

Selalu ada kesempatan untuk terhubung dalam harapan. Seperti cara langit menyampaikan pesan lewat butiran hujan. Seperti alam yang pandai menyampaikan kisahnya. Kisah diam-diam yang selalu membuat orang lain iri dan jatuh cinta.
Entah berapa butir lagi hujan yang akan turun. Seketika aku resah memikirkan sesuatu.

Aku yakin pesan-pesan doa itu akan sampai kepadanya. Yang aku belum tahu kapan pesan itu akan berbalas dengan kabar gembira.

Mungkin setelah hujan ini sudah benar-benar reda.

20140629-234838-85718053.jpg

Untuk korban bencana asap. Semoga semua segera berlalu.

Hidung Cangkang dan Nenek Nujum http://wp.me/p6jOP4-4

Bosan bagiku itu tidak ada artinya jika ada kamu. Kamu butuh teman untuk mengerjakan tugas? Aku akan dengan senang hati menemani.
Skripsimu tak maju-maju? Ayo aku bantu. Kamu bagian menulis, aku bagian mengelus-elus kepalamu. Deal?

Konsep Kesempurnaan Tunggal yang Membunuh

Ketika perbedaan sering kali menjadi sumber diskriminasi

Kenapa persepsi perempuan ‘cantik’ harus langsing, berkulit putih, mulus, hidung mancung, wajah oval dll? Karena itulah persepsi yang dibentuk oleh berbagai media di sekitar kita. Begitu kuatnya sehingga kita menganggap hal tersebut wajar, valid, absolute dll. Mungkin ada di suatu tempat di mana persepsi terhadap perempuan berbadan subur, gendut, gembrot dipandang cantik. Tapi sepertinya itu ada di belahan bumi yang akan sulit kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sadar atau tidak media selalu menyajikan standar bagi citra ideal buat laki-laki atau perempuan. Terutama pada perempuan, konsep kecantikan yang disajikannya bahkan sudah bisa menjelma jadi siksaan bagi para perempuan. Konsep kecantikan tunggal yang menjadi standar ideal baik dari persepsi laki-laki atau perempuan sendiri.

Citra ideal yang dibentuk media tentang kesempurnaan fisik ini yang akhirnya jadi momok dalam kehidupan sehari-hari kita. Padahal kita semua tahu jika segala kecantikan dan citra ideal tersebut adalah karya kolaboratif para kru produksinya. Peran tukang foto dan tukang lampunya dalam menentukan angle dan lighting terbaik, belum lagi para artis grafis yang mampu mengubah atau memodifikasi ‘cacat’ pada profil si model, agar tampak sempurna. Kita semua tahu itu, tapi sayangnya tidak mau tahu.

Citra ideal yang dibentuk oleh media ini yang pada akhirnya secara tidak sadar membuat kita membedakan-bedakan manusia berdasarkan bentuk tubuhnya, bahkan lebih jauh lagi sampai mendiskriminasi orang-orang yang tidak mempunyai citra ideal –berbadan bundar, gendut, gembrot atau bongsor.

Rasis, apalagi kalau bukan hal yang seperti ini bukan disebut rasis. Rasis di sini bukan membedakan wana kulit dan suku atau ras biologis. Rasis di sini membicarakan tentang membedakan manusia berdasarkan bentuk tubuhnya.

Pengertian rasis versi wikipedia adalah sebagai berikut: “Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu –bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya”.

Jadi bohong jika saat ini kebanyakan orang mengagung-agungkan anti-rasis tetapi masih membedakan manusia berdasarkan bentuk tubuhnya memandang sebelah mata orang-orang yang mempunyai bentuk tubuh bundar. Bahkan lebih jauh lagi ada yang menganggap orang-orang berbadan bundar itu bukan manusia, mereka mendapatkan diskriminasi di banyak aspek kehidupan, menjadikan mereka less-human.

Citra ideal tentang kesempurnaan tubuh ini akan terus didengungkan, dan akan menjadi standar bagi siapa pun, dan media akan mendorong orang untuk mencapai standar tersebut. Sementara di satu sisi, standar tersebut akan terus diubah, atau berubah seiring perjalanan waktu. Seperti yang kita tahu, trend fashion atau gaya rambut dll sebenarnya hanya berputar-putar dari tren satu ke tren yang lain.

Akan tetapi menyalahkan media saja bukan pula tindakan yang bijaksana. Generasi kita bisa diasingkan dari berbagai terpaan informasi tersebut, yang semakin hari akan semakin besar dan gencar. Kita bisa menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan bisa berkompromi dengan situasi-kondisi apa yang ada di diri kita saat ini. Biarkan iklan atau media apapun menyerang kita dengan apa yang menurut mereka penting, selama kita bisa menyaring apa yang layak kita ambil dan mana yang kita buang.

Mari kita singkirkan racun-racun budaya populer tersebut. Kemampuan seperti ini yang perlu dikembangkan kita, yaitu kemampuan melek media, memberi peluang detoksifikasi media dari konten beracun yang berpotensi menyeret kita, terutama para perempuan dari pendewaan satu konsep citra ideal saja.

Mari kita menjadi diri kita yang tidak menjadikan perbedaan sebagai halangan bahkan sumber diskriminasi.

Cantik itu tidak harus kurus, kulit putih bersih atau rambut panjang seperti di iklan-iklan TV. Cantik itu saat kita menerima diri kita sendiri apa adanya. Percayalah di saat kita mencintai diri kita maka akan banyak yang mencintai kita.

Jadilah diri sendiri!

Accept yourself, love your body and embrace your inner beauty. And please think twice before you type/speak, you can hurt someone else.