Tuhan, aku bosan.

Kalau waktu ku akan habis, berilah isyarat padaku.

Setidaknya agar aku sempat mengucapkan perpisahan pada orang-orang terdekatku.

Kalau waktu ku masih lama, percepatlah.

Tapi beri kesempatan untuk aku agar bisa melunturkan dosa yang melekat.

Karena aku mulai bosan.

Beruntunglah kau pohon angsana. Bukan manusia, juga takkan pernah menjadi manusia.

Cukup Semesta

Ini, ada nada-nada yang tidak cukup terdengar oleh sekedar telinga.

Bunyinya nyaring, semurni dentuman atom. 
Liriknya indah senyata gempa pada mayapada. Serta golak-golek malaikat di suralaya menambah gempita nuansa roman yang aku pendam.

Coba lagi, sekali lagi dengarkan baik-baik. Tidak terdengarkah olehmu lantunan nan merdu itu?

Kisah memang semacam nostalgia. Kadang bahkan hanya serupa dongeng pengantar lelap. 
Tapi tahukah kamu?

Bintang kejora mengerlip seakan meyakinkan batin. Bahwa pada akhirnya kisah itu masih akan berlanjut. Kisah yang menjadi asal muasal bunyi-bunyian ini.

Karena pada dasarnya, sejarah akan mencatat, bahwa dunia terlalu sempit untuk menampung cerita kita.

Lalu tidak perlu semua orang tahu. Tidak perlu pula ditulis dalam banyak buku. Cukup semesta yang mengerti. Cukup semesta yang memahami.

Coba kau dengar sekali lagi. Dari dalam kamar, di dalam selimut, di balik kausku, di balik kulit tubuhku, di antara tulang-tulang dan darahku, di sanalah kau akan menemukan nada-nada itu.

Jangan tanya di mana persisnya. Karena aku tidak tahu pasti hatiku berada di sebelah mana.

Puisinya adalah Pembunuh

Tercipta dari getir, ia merangkai perih yang ia punguti dari sisa-sisa tragedi.

Matanya yang sembab, berhalusinasi tentang janji yang ia cungkil sendiri dari hati yang terlanjur mempercayai.

Bergetar tangannya, menodai kertas yang meregang nyawa. 

Tersusun kata yang menangisi elegi tentang masa yang pernah dilewati.
Ia sendiri. 

Ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. 

Pintalan akar yang mengikat nadi telah menjadi saksi, bahwa puisi adalah pembunuh paling sadis untuk dirinya sendiri.

Aku Pembohong

Betapa sebuah kebenaran akan menjadi terlalu sulit untuk diubah menjadi sebuah kebohongan. Begitupun sebaliknya.

Pada ia, yang selalu tahu apapun yang menjadi kebiasaan

Aku memang berbohong
Saat kukatakan aku akan baik-baik saja
Mana mungkin
Bila terlalu cinta, perpisahan seperti menjadi kejadian paling menakutkan sekaligus menyedihkan di dunia, kan?

Aku memang berbohong
Saat kukatakan tak akan lagi tentangmu dalam tulisan-tulisanku
Ah, kau pasti tahu
Suka atau duka
Tentangmu dalam tulisanku sudah seperti bahan bakar yang mampu memberi tenaga.

Aku memang berbohong
Saat kukatakan bisa saja aku menuliskan seseorang yang sedang sibuk kurindukan
Tentu, aku mengaku itu bukan kamu
Ah, rasanya sesak berkata yang tak benar
Namun mau bagaimana lagi
Kau tak boleh tahu
Hatiku masih sekurangajar ini merindukanmu.

Aku memang berbohong
Saat katakan tanpamu saat ini, aku pasti mampu bahagia
Mungkin saja aku bisa
Namun siapa sangka
Melupakanmu sama seperti melupakan rasa makanan terenak di dunia
Terlalu sulit, karena hatiku selalu berkelit

Aku memang berbohong
Saat kukatakan, padamu sudah tidak ada rasa
Ah, rasa itu tentu saja masih ada
Ia sedang kutahan-tahan
Kupenjara, supaya tidak seenaknya saja keluar.

[repost] Hujan, Pesan

Seketika tersenyum memandang rinai hujan di balik jendela kaca. Memikirkan sesuatu tentang hujan dan pesan-pesan perasaan.
Hujan, tentu saja mereka adalah pasukan pembawa pesan yang disampaikan langit kepada hamparan tanah.

Itulah cara langit menyentuh tanah yang hanya bisa dipandanginya dari atas. Sosok yang ia ingin lindungi setiap saat.

Pesan itu akan sampai meresap dan kemudian cepat atau lambat akan kembali disambut sang langit, dengan pesan baru berisi curahan hati hamparan tanah yang hanya memandang ke atas. Memuji pesona langit.

Seketika aku tersenyum memikirkan sesuatu. Aku percaya selalu ada cara untuk menyampaikan pesan hati, sekalipun jarak membentang tak terperi.

Selalu ada kesempatan untuk terhubung dalam harapan. Seperti cara langit menyampaikan pesan lewat butiran hujan. Seperti alam yang pandai menyampaikan kisahnya. Kisah diam-diam yang selalu membuat orang lain iri dan jatuh cinta.
Entah berapa butir lagi hujan yang akan turun. Seketika aku resah memikirkan sesuatu.

Aku yakin pesan-pesan doa itu akan sampai kepadanya. Yang aku belum tahu kapan pesan itu akan berbalas dengan kabar gembira.

Mungkin setelah hujan ini sudah benar-benar reda.

20140629-234838-85718053.jpg